Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Embung Langensari Tidak Efektif Tangani Banjir, DPUPKP Kota Jogja Bakal Bangun SAH Kapasitas Besar pada 2026: Tujuannya Ini..

Iwan Nurwanto • Sabtu, 22 November 2025 | 02:00 WIB

 

RUSAK: Salah satu bangku di Taman Embung Langensari yang kondisinya sudah rusak pada Sabtu (8/2/2025).  (IWAN NURWANTO/Radar Jogja)
RUSAK: Salah satu bangku di Taman Embung Langensari yang kondisinya sudah rusak pada Sabtu (8/2/2025). (IWAN NURWANTO/Radar Jogja)

JOGJA  - Keberadaan Embung Langensari, Klitren, Kota Jogja belum efektif mengatasi banjir di wilayah setempat.

Terutama dalam mengatasi genangan di kampung Iromejan kawasan tersebut. 

Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUKP) setempat berencana menambah saluran air hujan (SAH) dengan kapasitas besar sebagai upaya mengurangi banjir memasuki musim penghujan.

 Baca Juga: Jelang Nataru, Dishub Bantul dan Dinkes Bantul Gelar Cek Kesehatan Gratis, Sasar 60 Kru Angkutan Umum di Terminal Palbapang

Kepala DPUPKP Kota Jogja Ummi Akhsanti mengatakan, pihaknya memilikin keterbatasan kewenangan untuk menambah saluran dari Kampung Iromejan menuju Embung Langensari karena pengelolaan embung berada di bawah naungan Pemprov DIY.

“Tapi kami konsern terhadap masalah ini, misalnya dengan menambah saluran air hujan dengan kapasitas besar pada 2026 mendatang,” katanya saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Jumat (21/11/2025).

Ummi menjelaskan, upaya yang dilakukan instansinya itu sebagai perhatian Pemkot Jogja untuk mengurangi banjir di Kampung Iromejan yang terjadi setiap musim penghujan.

 Baca Juga: 3.891 Koperasi Merah Putih di Jateng Telah Beroperasi, 1.257 Lahan Siap Dibangun Gudang

Pelaksanaan proyek SAH bakal dilakukan di sepanjang Jalan Solo sisi utara. Titik tersebut dipilih karena kehadiran SAH akan mengatasi dua masalah. Yakni genangan air di jalan raya sekaligus mengantisipasi banjir di Kampung Iromejan.

“Mudah-mudahan di 2026 bisa kami tangani dengan membuat saluran besarnya,” ujarnya.

Menurutnya, penyebab Embung Langensari belum mampu mengatasi banjir karena pada awal dibangun konsep embung tersebut untuk konservasi air.

Sehingga memiliki kapasitas volume air yang sangat terbatas.

 Baca Juga: Inilah Perubahan yang Terjadi pada Otak Penderita Alzheimer

Selain itu, dari sisi geografis letak Kampung Iromejan juga berada di daerah cekungan.

Sehingga membuat genangan air selalu mengumpul pada satu titik ketika terjadi hujan deras. Serta juga banjir ketika sungai meluap karena ada kiriman air dari sisi utara (Kabupaten Sleman).

Kemudian secara teknis, saluran air dari Kampung Iromejan menuju Embung Langensari juga terbilang kecil dan cukup jauh.

Kondisi itu membuat debit genangan air dari kampung tersebut belum maksimal menuju embung.

“Jadi hanya mengurangi sedikit tapi belum menyelesaikan masalah banjir,” jelasnya detail.

Sementara salah satu warga Kampung Iromejan Catur mengungkapkan, berdasarkan pengalamannya pada Agustus lalu banjir bisa mencapai ketinggian pinggang orang dewasa.

Kondisi itu terjadi ketika wilayah Kota Jogja diguyur hujan sangat deras.

 Baca Juga: Prediksi Valencia vs Levante La Liga Sabtu 22 November Kick Off 03.00, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?

Dia menyebut, banjir di wilayah tempat tinggalnya sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu.

Menurutnya, banjir di Klitren dapat terjadi karena kapasitas sungai yang kecil. Sehingga kerap membuat air meluap hingga ke pemukiman warga.

“Tapi biasanya surutnya cepat, misal banjirnya pukul 16.00, nah jam 16.30 sudah surut. Itu warga sambil membersihkan aliran air yang tersumbat sampah,” bebernya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#embung Langensari #sah #DPUPKP Kota Jogja #Banjir