JOGJA - Organisasi peduli Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHIV) di Yogyakarta, Pita Merah Jogja mengungkap diskriminasi terhadap ODHIV masih cukup marak. Namun kasusnya cenderung tidak muncul ke permukaan.
Sekretaris Pita Merah Jogja N.Baggaswara mengatakan, tidak munculnya tindakan diskriminasi terhadap ODHIV karena mayoritas pengidap khawatir mendapatkan sanksi sosial. Misal akan dikucilkan oleh masyarakat dengan label sebagai ODHIV.
Dia mengungkap, pihaknya juga pernah mendapatkan laporan bahwa ada ODHIV yang dipecat dari pekerjaannya. Namun lebih memilih diam karena khawatir rahasia penyakitnya akan disebar luaskan.
“Kalau dia melawan, itu otomatis status HIV dia kan juga tersebar. Nah, itu yang kadang banyak teman-teman itu memilih diam," ujar Baggaswara saat ditemui dalam Pertemuan Audiensi Inovator IDEAKSI 2.0 dan Multi Pihak yang digelar YAKKUM Emergency Unit di Hotel Tara, Kamis (20/11/2025).
Dia mengaku, Pita Merah Jogja rutin melaksanakan tiga program utama agar diskriminasi terhadap ODHIV bisa dicegah. Yakni melalui edukasi berkelanjutan, pemberdayaan, dan kerjasama dengan stakeholder.
Menurut Baggaswara, upaya tersebut juga untuk menekan laju kasus HIV dan AIDS. Sebab berdasarkan catatan pihaknya, di DIY ada sebanyak 8.627 kasus HIV dan 2.391 kasus HIV. Sehingga edukasi terkait cara penularan pun terus digalakkan.
“Upaya ini kami lakukan secara berkelanjutan untuk mendukung ODHIV, sekaligus mencapai target eliminasi HIV pada tahun 2030,” jelasnya.
Hadir sebagai salah satu narasumber, Anggota Komisi D DPRD DIY Sri Muslimatun menekankan, pencegahan penularan HIV dan AIDS dapat dilakukan secara efektif apabila setiap individu memiliki kesadaran. Terkhusus mengenai sumber penularan penyakit tersebut.
Selain itu, menurutnya, juga diperlukan upaya kolektif dari berbagai pihak untuk mengedukasi masyarakat secara luas. Serta memastikan ketersediaan obat bagi penderita. Dia juga menekankan bahwa penanganan dan edukasi HIV dan AIDS menjadi tugas bagi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Kami juga terus mengedukasi masyarakat agar tidak menganggap HIV sebagai sesuatu yang menakutkan, sehingga tidak ada lagi diskriminasi,” jelas legislatif yang berlatar belakang tenaga kesehatan ini.
Sementara itu, Project Manager YAKKUM Emergency Unit Jessica Novia menyatakan, pihaknya berkomitmen untuk menjembatani para inovator lokal untuk berjejaring dengan dinas maupun lembaga. Salah satunya melalui audiensi Inovator IDEAKSI 2.0.
Jessica menegaskan, pertemuan tersebut dikemas secara interaktif dan dua arah. Sehingga semua pihak, baik inovator maupun stakeholder dapat saling mendengarkan dan memberikan respons.
“Harapannya inovator IDEAKSI bisa langsung berjejaring dengan dinas-dinas terkait, sehingga bisa mengakses berbagai program,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin