JOGJA - Meski menyandang predikat sebagai kota pelajar, nyatanya Kota Jogja masih rendah dalam hal tingkat kegemaran membaca.
BPS DIY mencatat kegemaran membaca di Kota Jogja hanya 78,47. Pemkot Jojga pun tengah melakukan upaya meningkatkan literasi masyarakat.
Data ini merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, skor tingkat kegemaran membaca di Kota Jogja Masih lebih rendah dibandingkan Gunungkidul yang mencapai angka 83,99.
Pun belum menandingi Sleman dengan skor 82,81 dan Bantul yang capaiannya menyentuh 80,89.
Bahkan tingkat kegemaran membaca di Kota Jogja juga lebih rendah dari skor rerata DIY yang angkanya menyentuh 79,99. Namun unggul dari Kulon Progo dengan skor 74,55.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, cukup prihatin dengan kondisi tersebut. Sehingga mendorong agar instansi terkait tidak hanya puas dengan angka-angka.
Misalnya hanya berkutat pada jumlah koleksi buku, jumlah pembaca, atau pengunjung perpustakaan.
“Tetapi fokuslah pada kualitas kedalaman literasi,” ujar Hasto seusai melantik Bunda Literasi dan Duta Baca di Balai Kota Jogja, Selasa (18/11/2025).
Bupati Kulon Progo 2011-2019 itu berharap, lewat pelantikan Bunda Literasi dan Duta Baca bisa meningkatkan literasi masyarakat.
Sebab, dengan capaian yang masih rendah minat membaca harus ditumbuhkan secara serius.
Baca Juga: Dalami Korupsi Dana Hibah Pariwisata, Kejari Sleman Periksa Sri Purnomo Selama Tiga Jam
Hasto menekankan, literasi bukan sekadar membaca teks. Namun lebih kepada memahami makna dan ilmu yang ada dalam sebuah bacaan.
Misalnya dalam kegiatan memasak, sebagian orang hanya sekadar membaca resep. Namun tidak memahami kandungan bahan makanan dan proses pengolahannya. “Literasi itu ketika memahami lebih dalam," katanya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Jogja Afia Rosdiana menjelaskan, duta baca dan bunda literasi merupakan upaya strategis menciptakan gerakan literasi yang kuat dan merata. Baik itu di tingkat kota maupun kemantren.
Afia menyebut, duta baca dan bunda literasi diharapkan dapat menjadi teladan sekaligus motivator penggerak literasi masyarakat.
Mereka memiliki tanggung jawab sebagai figur yang mendorong kegemaran membaca dalam keluarga dan lingkungan sosial.
“Melalui kolaborasi para pegiat literasi, keluarga, dan generasi muda, kami menegaskan komitmen menjadi kota yang tumbuh melalui budaya membaca,” jelasnya.
Sementara Duta Baca Kota Jogja, Maya Ferry Oktavia berkomitmen membawa semangat literasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dia pun ingin memperkuat budaya baca melalui berbagai kegiatan kreatif.
“Misalnya seperti pojok baca kampung, alih wahana buku, hingga pelatihan keterampilan berbasis literasi,” bebernya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita