JOGJA – Pemkot Jogja tampaknya masih mengandalkan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Piyungan sebagai antisipasi sampah di musim liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Upaya negosiasi sudah dibuka kembali dengan Pemprov DIJ.
Hal itu diakui Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo. Dia menyebut, pemkot sudah bersurat ke pemprov agar dapat memberikan kuota pembuangan ke TPA Piyungan. Hasilnya, Kota Jogja diberikan jatah 1.500 ton pembuangan hingga akhir tahun mendatang.
Hasto mengaku, pihaknya akan memaksimalkan kuota tersebut untuk musim libur panjang. Sehingga harapannya dapat mengantisipasi membludaknya depo imbas peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.
“Supaya nanti pas nataru itu kami juga longgar, jadi dari sekarang sampai Desember itu kami akan memanfaatkan kuota sekitar 1.500 ton,” ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja, Senin (17/11).
Selain lewat upaya tersebut, Bupati Kulonprogo periode 2011-2019 itu juga akan berkoordinasi dengan instansi terkait agar mengedukasi wisatawan mengelola sampah. Misalnya melalui petugas di Malioboro dan sektor usaha perhotelan.
Hasto berkomitmen, selama masa libur panjang nanti pemkot juga akan menambah jumlah tempat sampah di kawasan Malioboro. Sehingga sampah di titik penumpukan wisatawan itu bisa terkelola dengan baik.
“Jadi kami ke hotel-hotel, ke tempat-tempat wisata, sudah kami lakukan edukasi agar Malioboro bersih setiap saat,” jelasnya.
Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Ahmad Haryoko menyatakan, kuota yang diberikan oleh TPA Piyungan dimaksimalkan dengan skema pembuangan mingguan. Yakni sebesar 300 ton per minggu.
Dia optimist dengan kuota yang diberikan pemprov bisa mengatasi produksi sampah libur nataru. Sebab peningkatan biasanya hanya berkisar 10 sampai 15 ton atau menjadi sekitar 315 ton per hari.
Pemkot saat ini juga terus berupaya menggencarkan pemilahan sampah dari sumbernya. Yakni melalui program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) dan mengoptimalkan unit pengolahan sampah milik Pemkot Jogja. “Ketika TPST Piyungan sudah ditutup untuk pembuangan, maka siap tidak siap harus dihadapi,” tegasnya. (inu/pra)
Editor : Heru Pratomo