JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja telah membuat tujuh titik tempat pentas untuk musisi jalanan di kawasan Malioboro. Hal ini dilakukan buntut dari banyaknya aduan oleh para wisatawan. Beroperasi sejak 7 Oktober, seluruh lokasi ini digunakan oleh 22 grup musisi jalanan.
Ketua Paguyuban Paseduluran Malioboro Silvester Alvon Ditya Arudiskara mengaku, titik pentas untuk pengamen memiliki dua tambahan lokasi. Keduanya ada di Teras Malioboro 1 dan Teras Malioboro 2. “Sehingga bisa dibilang saat ini ada sembilan titik,” ungkapnya kepada Radar Jogja Sabtu (15/11).
Dia memastikan, pengamen yang tampil di semua lokasi sudah mendapat pelatihan dan dikurasi. Namun, dia tidak menampik masih ada musisi jalanan yang sulit diatur. Namun dia menduga, itu karena adanya campur tangan pihak luar atau kelompok yang menolak penertiban.
Padalah, lanjutnya, upaya penertiban dilakukan agar tidak mengganggu wisatawan. “Pemeliharaan teman-teman itu supaya main musik lebih baik. Terus ditata, ben ora ganggu wisatawan," tegasnya.
Dia pun turut menyayangkan adanya Paguyuban Musisi Malioboro Yogyakarta yang sempat viral di media sosial. Dalam unggahan video dua hari lalu, disebutkan bahwa pernyataan dari kepala dinas kebudayaan Kota Jogja yang meninggung para pekerja seni. Ucapan soal gitar pengamen itu sampah, justru dinilainya sebuah metafora. “Tapi mereka menerimanya berbeda,” ucapnya.
Agar keributan serupa tidak terjadi, Alvon mengaku, paguyubannya berencana beraudiensi dengan DPRD DIY dan wali Kota Jogja. Harapannya akan ada produk hukum dalam bentuk perwal yang mengatur musisi di Malioboro.
"Kami khawatir program penataan yang sudah berjalan positif akan dihapus. Sehingga merugikan para musisi yang telah tertib dan kooperatif," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja Yetti Martanti menjelaskan, kebijakan dari pemerintah yang menyediakan tujuh titik bagi para musisi di Malioboro itu bertujuan untuk menciptakan ketertiban dan kenyamanan. Khususnya di area sumbu filosofi.
"Kami kan harus mengatur semua pengamen supaya teratur, tidak mengamen keliling yang selama ini dikeluhkan pengunjung," ungkapnya.
Meski penataan sempat menimbulkan pro dan kontra, namun mayoritas pengamen jalanan menyambutnya dengan baik. "Pengamen Malioboro yang sudah melakukan aktivitas tersebut ada 116, termasuk rekan-rekan tunanetra. Mereka rutin setiap hari menempati titik tersebut," ungkapnya. (ayu/eno)