JOGJA - Polemik penanganan sampah di Kota Jogja masih bergulir. Kalangan penggerobak menilai program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) belum terlalu optimal untuk menyelesaikan permasalahan sampah.
Hal itu diungkapkan Ratman, penggerobak yang bertugas di Kelurahan Wirogunan, Mergangsan ini menyebut para penggerobak belum siap untuk menjalankan konsep pemilahan.
Lantaran masih kesulitan memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu sebelum masuk ke depo.
Baca Juga: Akhirnya Cetak Gol Perdana di Super League, Winger PSIM Jogja Deri Corfe Ungkap Rasa Leganya
Alih-alih memilah, dia justru menyarankan agar pemerintah kota (pemkot) untuk menyediakan mesin pemusnah sampah dengan sistem peleburan.
Metode tersebut diklaim efektif karena dapat memusnahkan sampah secara cepat.
“Teman-teman itu belum siap kalau harus memilah secara detail. Seyogyanya bapak wali kota harus menciptakan sebuah mesin,” ujar Ratman saat ditemui di sela Koordinasi Transporter Mandala Krida dan Kebun Raya yang digelar di Ruang Bima Balai Kota, Jumat (14/11/2025).
Baca Juga: Penuhi Target, Tim Catur DIJ Juara Tiga Nasional di Kejurnas Catur 2025 Mamuju Sulbar
Dia bahkan menawarkan kepada pemkot untuk bermitra dengan pelaku peleburan timah yang merupakan jaringan penggrobak di Wirogunan.
Menurutnya, pelebur timah bisa memberikan solusi penanganan sampah karena mampu membakar sampah tanpa sisa.
Ratman mengklaim, metode peleburan bisa lebih efektif dibandingkan insinerator. Pasalnya, sampah akan langsung terbakar dengan suhu sangat tinggi.
“Lah, wong besi, baja aja leleh jadi air, opo maneh mung sampah kan gitu,” sebutnya.
Baca Juga: 20 Warga Masih Hilang, Pemprov Jateng Fokuskan Pencarian Korban Longsor Cilacap
Namun demikian, Ratman mengaku, solusi yang diberikan oleh para penggerobak di wilayahnya kerap tidak didengar. Padahal, metode peleburan justru lebih banyak memiliki dampak positif.
“Karena tungku kami itu juga bisa menghasilkan listrik,” klaimnya.
Ratman pun turut menyoroti peran Juru Pengawas Pemilahan Sampah (Jumilah) dan Satgas Sampah yang sampai saat ini masih belum optimal.
Terkhusus untuk mengurangi sampah yang selama ini diangkut oleh penggerobak.
Menanggapi keluhan tersebut, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengaku, pihaknya akan segera mengevaluasi program Jumilah.
Jika memang kurang optimal maka ada kemungkinan program tersebut akan dihentikan.
Bupati Kulon Progo periode 2011-2019 menjelaskan, program Jumilah merupakan kepanjangan tangan dari kelurahan dan kemantren.
Serta membantu penanganan sampah di tingkat wilayah. Oleh karenanya, dia mendorong agar para lurah dan camat agar bisa lebih memaksimalkan peran Jumilah.
“Saya berharap Jumilah itu betul-betul harus kompak,” tegas Hasto lewat zoom meeting. (inu)
Editor : Winda Atika Ira Puspita