JOGJA - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi daerah dengan beragam industri ekonomi kreatif di dalamnya.
Melihat potensi tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia menunjuk DIY sebagai daerah pengembangan ekonomi kreatif bersama dengan 14 daerah lainnya.
"DIY ini sudah memulai lebih dulu terkait ekosistem industri ekonomi kreatifnya, beberapa daerah lain belum mengetahui peluang tersebut," ujar Deputi Bidang Kreatifitas Media, Kementerian Ekonomi Kreatif RI Agustini Rahayu saat ditemui di acara Pinasthika Creativestifal 2025 di Gedung GIK UGM, Jumat (14/11/2025).
Industri ekonomi kreatif yang telah terbangun di DIY mulai kerajinan, kesenian dan aspek pendukung lainnya terutama sektor periklanan.
Kemenekraf telah menentukan 15 lokasi pengembangan ekonomi kreatif yang sudah ditetapkan dalam perencanaan, salah satunya DIY.
Sampai 2029, 15 lokasi tersebut menjadi daerah yang akan dikembangkan sektor industri ekonomi kreartifnya.
Sebanyak 15 daerah itu di antaranya Aceh, Riau, Medan, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan, Maluku sampai ke Papua.
"Ini menjadi tumpuan ekonomi baru," bebernya.
Di tengah perkembangan digital dan kemunculan kecerdasan buatan (AI), lanjutnya, salah satu industri ekonomi kreatif yakni agensi kini berperan sebagai konsultan strategis yang mampu membaca data, memahami user journey, hingga menciptakan konten otentik.
Pergeseran ini menuntut para kreator untuk lebih adaptif, inovatif, dan tetap menjunjung nilai-nilai etika serta tanggung jawab sosial dalam setiap karya.
"Kami berkomitmen memperkuat subsektor periklanan sebagai bagian penting dari ekosistem ekonomi kreatif nasional," bebernya.
Baca Juga: Siap Jadi Trendsetter Baru, Skutik Retro New Honda Scoopy Kini Makin Stylish
Dalam perspektif global, Industri tersebut berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dengan nilai mencapai 1 triliun dolar AS pada 2026 dan pertumbuhan rata-rata 6,7 persen per tahun hingga 2028 (PwC).
Di Indonesia, sektor periklanan menyerap lebih dari 70 ribu tenaga kerja dan mencatat pertumbuhan pengeluaran iklan digital hingga 12 persen per tahun.
Pemerintah Indonesia melalui kementerian barunya yakni Kemenekraf melakukan berbagai upaya untuk mendorong industri tersebut bisa terus meningkat.
Salah satunya melalui kolaborasi dengan berbagai pihak dan melakukan event bersama seperti Pinasthika Creativestifal 2025 yang digelar di GIK UGM tersebut.
"PR Kemenekraf adalah meningkatkan jumlah pekerja, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, nilai ekspor dan investasi industri kreatif," jelasnya.
Menurutnya, untuk mencapai target tersebut bisa dilakukan dengan menjalankan tiga tugas penting pemerintah yakni koordinator, regulator dan fasilitator.
Sebagai fasilitator harus sering berdialog dengan para pelaku industri agar fasilitasi yang dilakukan tepat sasaran.
"Jadi kami banyak ngobrol supaya tahu apa yang dibutuhkan industri dan dari sana mencoba untuk memenuhinya. Kami tidak bisa kerja sendiri harus lebih banyak kolaborasi," ucapnya.
Ketua Penyelenggara Pinasthika Creativestifal 2025 Rizal Kasim menambahkan acara tersebut bertujuan untuk mengajak pelaku industri ekonomi kreatif khususnya periklanan untuk berjuang bersama mengahadapi tantangan modernisasi ke depan.
Sesuai dengan tema yang diusung yakni Beat the Heat.
"Ada 50 pelaku industri ekonomi kreatif yang terlibat, 15 diantaranya dari Jogja," ujarnya.
Acara tersebut banyak mengedukasi melalui seminar, workshop hingga mentorship.
Hal itu untuk menjawab tantangan sekaligus peluang kaitannya dengan pengaruh Artificial Intelegence (AI) dalam industri ekonomi kreatif.
"Dengan AI justru untuk meningkatkan produktivitas kami di industri ini," jelasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati menyampaikan beberap komoditas unggulan sektor ekonomi kreatif di DIY di antaranya fashion, makanan dan minuman, kerajinan serta homedeco.
Bahan yang digunakan untuk produksi produk tersebut beraneka ragam mulai bambu, kayu, serat alam, perak, kaca, batu, kertas, logam dan bahan lainnya.
"Kerajinan dari Jogja memiliki nilai yang tinggi karena unik dan handmade," ujarnya.
Komoditas tersebut otomatis mempengaruhi perekonomian masyarakat karena pembuatannya di sentra industri melibatkan masyarakat sekitar.
Bahkan, komoditas tersebut telah merambah pasar global.
"Kerajinan dan homedeco memiliki pasar potensial ekspor tinggi," bebernya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin