JOGJA- Ketua Fraksi Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng menanggapi gelombang penolakan Presiden ke-2 RI yang belum lama dianugerahi gelar pahlawan oleh Pemerintah Indonesia.
Baginya, penolakan tersebut adalah suatu hal yang umum terjadi karena setiap keputusan di manapun tidak ada yang setuju 100 persen.
"Kalau soal Pak Soeharto, orang Golkar pasti mendukung seribu persen beliau mendapat gelar Pahlawan Nasional," ujar Markus saat ditemui di Jogja, Kamis (13/11) malam.
Pernyataan tersebut maklum disampaikan mengingat Soeharto merupakan salah satu tokoh yang membentuk Partai Golkar pada 20 Oktober 1964 dengan nama awal Sekber Golkar.
Bahkan dalam sejarahnya, partai tersebut menapaki masa kejayaan di zaman Orde Baru sekitar tahun 1971 hingga 1997 dengan perolehan suara sekitar 80 persen.
"Menjadi presiden itu jabatan pengabdian. Selama 32 tahun beliau mengabdi, mungkin waktu untuk keluarganya berkurang karena berbakti untuk bangsa ini. Dia layak mendapatkan gelar itu," bebernya.
Menanggapi pihak yang masih kontra terhadap gelar pahlawan yang diberikan kepada Soeharto, pihaknya menilai itu adalah hal yang biasa.
Ia mencontohkan di berbagai negara yang juga bangak kasus pro dan kontra masyarakat kepada pemimpinnya.
"Di Amerika tidak semua mendukung Trump, di Rusia tidak semua mendukung Putin, di Tiongkok juga tidak semua mendukung Xi Jinping," ucapnya.
Ia menganggap setiap negara tidak mungkin mendapatkan pemimpin seperti malaikat.
Pasti semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula Soeharto.
"Kalau kita mau maju, jangan hanya melihat kesalahannya terus menjadikan kita ribut," tandasnya.
Berdasarkan peniliannya, Soeharto layak mendapat gelar Pahlawan Nasional atas dasar pengabdiannya selama puluhan tahun menjadi presiden.
Terlebih saat itu kondisi perekonomian dan pembangunan di Indonesia masih sulit.
"Saat memimpin negara ini, kondisinya sulit inflasi tinggi, infrastruktur belum memadai tapi beliau mengabdikan diri," jelasnya. (Oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin