Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Musim Hujan Jadi Kendala, DLH Kota Jogja Alami Defisit Pengolahan Sampah Hingga 75 Ton per Hari: Ini Sebab Sampah Tertahan di Depo

Iwan Nurwanto • Jumat, 14 November 2025 | 03:14 WIB
MEMBLUDAK: Kondisi Depo Argolubang yang penuh gunungan sampah pada Senin (10/11/2025).
MEMBLUDAK: Kondisi Depo Argolubang yang penuh gunungan sampah pada Senin (10/11/2025).

JOGJA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja mengungkap penyebab di balik penumpukan sampah yang terjadi di sejumlah depo.

Instansi tersebut mengklaim musim penghujan menjadi penyebab. Sehingga proses pengolahan sampah tidak optimal, dampaknya sampah tertahan di depo.

Kepala Bidang Pengelolaan DLH Kota Jogja Ahmad Haryoko mengatakan, kondisi musim penghujan menjadi tantangan karena membuat sampah basah sulit terolah.

Khususnya jika menggunakan metode insinerator atau dibakar dengan suhu tinggi.

 Baca Juga: Lahan Pertanian di Wonoroto Terendam Banjir selama Sebulan, Petani Keluhkan Cabai Membusuk dan Harga Jual Anjlok

Sebab sampah anorganik yang sudah tercampur air membuat proses pembakaran menjadi lebih lama. Sehingga menurunkan kemampuan mesin insinerator.

Akibat kondisi tersebut, kini DLH Kota Jogja pun mengalami defisit pengolahan hingga 15 truk per hari.

Jumlah itu sekitar 75 ton karena satu truk dapat menampung sampah seberat lima ton.

“Sampah terpaksa disimpan sementara di depo-depo,” ujar Haryoko saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Kamis (13/11/2025).

 Baca Juga: Jelang Nataru Gunungkidul Masih Andalkan Pantai, Siapkan Petugas Retribusi sejak Pukul 03.00

Mengatasi permasalahan tersebut, Haryoko mengaku, akan mengoptimalkan kemampuan lima unit pengolahan sampah (UPS) milik Pemkot Jogja.

Sehingga penumpukan sampah pada depo-depo bisa diminimalisasi.

Adapun lima UPS memiliki kemampuan 190 ton per hari. Meliputi UPS Giwangan dan UPS Piyungan yang menggunakan insinerator. 

Baca Juga: Sebanyak 147 Kepala Dapur MBG Non-ASN Belum Terima Gaji, Pastikan Hak Akan Segera Disalurkan dan Diakomodasi Ikuti CAT

Kemudian juga di TPS3R Nitikan, Kranon serta Karangmiri dengan model pengolahan refuse derived fuel (RDF).

Namun memang, kemampuan pengolahan belum mampu mengatasi timbulan sampah harian Kota Jogja yang mencapai 250 ton per hari.

Terkait hal ini, pun telah meminta kebijakan Pemerintah provinsi (Pemprov) DIJ untuk menambah kuota pembuangan ke TPA Piyungan sebesar 300 ton per minggu.

 Baca Juga: Produksi Garam Pansela Bantul Butuh Waktu Dua Bulan, Lebih Lama dibanding Daerah Lain: Kadar Garam Rendah, Ini Penyebabnya..

“Intinya kami terus berusaha agar jangan sampai  ada sampah yang sampai turun ke jalan,” tegasnya.

Terkait dengan situasi depo saat ini, pantauan Radar Jogja sejumlah depo memang mengalami overload atau kelebihan muatan.

Misalnya di Depo Argolubang dan Depo Mandala Krida. Kondisi pada dua depo tersebut sudah memprihatinkan.

Sebab sampah sudah menggunung dan sebagian turun ke jalan. Alhasil bau busuk pun timbul karena sampah tidak segera terangkut dari depo.  (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#defisit pengolahan #DLH Kota Jogja #Kota Jogja #DEPO #Sampah #tertahan