JOGJA – Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyoroti Pasar Ngasem yang masih kurang dalam hal pengelolaan sampah.
Fakta ini ditemukannya saat kunjungan Minggu (9/10/2025), banyak ditemukan sampah sisa makanan dibuang sembarangan. Padahal tempat itu menjadi salah satu destinasi wisata kuliner favorit wisatawan.
Hasto menyebut, kebersihan Pasar Ngasem masih kurang. Kesadaran pedagang pun untuk tanggung jawab atas sampah sisa makanan masih kurang.
Tak sedikit sisa makanan yang dihasilkan oleh para pedagang hanya ditaruh di pinggir jalan.
Kondisi itu menimbulkan lalat berkeliaran dan mengganggu lalu lalang wisatawan. Kemudian tempat cuci piring pedagang juga terkesan kumuh karena menjadi satu dengan taman.
“Di (Pasar) Ngasem ini laris, tapi kurang resik (bersih) dan kurang teratur,” ujar Hasto di sela tinjauan.
Oleh karena itu, Bupati Kulon Progo 2011-2019 itu mendorong agar para pedagang segera menerapkan kebiasaan memilah dan menjaga kebersihan lapak.
Ini agar dapat mendukung aktivitas berjualan yang bersih dan membuat pedagang semakin laris.
Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik harus segera diwujudkan. Sebab pasar tradisional yang berada di Kemantren Kraton itu merupakan salah satu tumpuan bagi UMKM untuk naik kelas.
Dia pun menyarankan agar Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja segera mengumpulkan pedagang Pasar Ngasem.
Kemudian mendorong mereka untuk menyediakan masing-masing tiga tempat sampah pada tempat berjualan.
Hasto menilai, tiga tempat sampah itu untuk memisahkan sampah sesuai jenisnya. Yakni sampah organik, anorganik, dan residu.
Khusus untuk sampah organik juga dipisahkan dengan wadah khusus agar bisa diolah menjadi pakan ternak oleh offtaker.
“Saya juga berharap para pedagang menyediakan penjualan secara online agar pembeli tidak berjubel antre,” imbuh Hasto.
Kepala Disdag Kota Jogja Veronica Ambar Ismuwardani merespons segera menindaklanjuti arahan wali kota.
Salah satunya terkait penyediaan tiga tempat sampah sesuai jenisnya.
Kemudian, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) untuk membuat tempat cuci piring yang terintegrasi dengan IPAL kota.
Vero sapaannya membeberkan, tiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu) Pasar Ngasem bisa dikunjungi oleh 4.000 hingga 6.000 orang.
Alhasil, produksi sampahnya pun dapat mencapai kisaran 900 kilogram hingga 1 ton per hari.
Menurut dia, masalah utama di Pasar Ngasem adalah sampah residu makanan. Sebab volume sampah jenis tersebut bisa mencapai 400 kilogram per hari.
Serta kecenderungan pedagang yang hanya mengumpulkan piring dan gelas tanpa mengambil sampah residu.
Guna mengoptimalkan kenyamanan pengunjung Pasar Ngasem, dia juga akan segera memindahkan tempat pemilahan dan pengelolaan sampah yang sebelumnya berada dekat dengan tempat berjualan pedagang.
“Akan kami pindah di sisi barat selatan, terpisah dari lokasi penjualan agar tidak menimbulkan bau, lalat dan mengganggu kesehatan,” katanya.
Sementara itu, salah satu pedagang sate kronyos di Pasar Ngasem Yu Ira mengaku akan segera menindaklanjuti arahan wali kota.
Termasuk menyiapkan sistem pengelolaan sampah sisa makanan dan cuci piring yang lebih baik. “Siap, akan saya tindaklanjuti," ucapnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita