JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi adanya aktivitas siklon tropis atau topan Fung Wong. Kondisi tersebut diprediksi memicu peningkatan potensi cuaca ekstrem di Yogyakarta.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, siklon tropis Fung Wong terdeteksi berada di perairan timur Filipina. Namun pola sikloniknya berada di sekitar perairan selatan Jawa Barat.
Fenomena tersebut dapat mengakibatkan terbentuknya wilayah belokan angin (shearline) dan konvergensi (pertemuan dan perlambatan angin). Sehingga meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Jawa Tengah termasuk DIY.
Menurutnya, situasi akibat topan Fung Wong juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Bisa berupa banjir, tanah longsor, puting beliung, pohon tumbang ataupun sambaran petir.
“Kami minta masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, berupa hujan sedang-lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” ujar Warjono saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Senin (10/11/2025).
Selain dipicu topan Fung Wong, berdasar pantauan BMKG, suhu muka laut dalam skala harian maupun mingguan terpantau relatif hangat. Berkisar antara 28 hingga 31 derajat celcius dengan anomali 0 hingga 1,5 derajat celcius.
Kemudian untuk profil vertikal kelembaban udara terkini wilayah DIY berada pada ketinggian 1.0 - 2.5 km (paras 850 - 700 mb) dengan kebasahan sebesar 70 - 95 persen. Kondisi itu mendukung peningkatan suplai uap air ke atmosfer, sehingga mempercepat pertumbuhan awan hujan
“Ada peluang hujan ringan sampai lebat di sebagian besar wilayah DIY terutama saat siang hingga sore hari,” jelas Warjono.
Terkait dengan kesiapan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja menghadapi potensi cuaca ekstrem. Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto menyatakan, pihaknya sudah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi.
Darmanto menyebut, status siaga darurat bencana hidrometeorologi akan berlaku hingga 30 November 2025 mendatang. Serta sangat mungkin diperpanjang tergantung situasi cuaca.
Lewat penetapan itu, dia memastikan penanganan bencana akan dioptimalkan. Sehingga bisa lebih cepat, efektif dan terkoordinasi dalam pencegahan maupun penanganan bencana hidrometeorologi.
“Sehingga dampak terhadap masyarakat dan infrastruktur kota dapat diminimalkan,” jelas Darmanto. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin