JOGJA- Kini para buruh di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang hobi atau mempunyai minat terhadap bidang seni mempunyai ruang sekaligus wadah menyalurkan kreativitasnya di Lentera Buruh. Wadah tersebut juga merupakan sebuah gerakan baru untuk menyampaikan aspirasi dan pesan keadilan lewat karya seni yang lebih humanis.
Koordinator Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) DIY Irsad Ade Irawan mengatakan Lentera Buruh lahir dari semangat memperjuangkan aspirasi dan hak-hak buruh di Yogyakarta dengan media dan cara-cara yang berbeda. Jika selama ini buruh di DIY menyampaikan aspirasinya melalui aksi di jalan dan sebagainya, Lentera Buruh merupakan gebrakan baru untuk menyampaikan aspirasi melalui karya seni yang lebih humanis.
"Sebuah ruang yang mewadahi kesenian, kebudayaan dan kreativitas kelas pekerja," ujar Irsad saat dihubungi, Senin (10/11/2025).
Lentera Buruh resmi dikukuhkkan pada 9 November 2025. Pengukuhan tersebut dilakukan dalam forum Konsolidasi Buruh DIY 2025 yang diadakan di Pantai Goa Cemara, Bantul. Ada kurang lebih 50 buruh yang saat ini aktif dalam wadah tersebut.
"Lahir dari kebutuhan akan wadah ekspresi yang dapat memperkuat suara perjuangan buruh," tandasnya.
Berbagai bidang seni dikumpulkan dalam wadah tersebut seperti seni rupa, musik, pertunjukan/teater dan sastra yang meliputi penciptaan puisi dan cerpen. Ia menilai, melalui seni dan budaya, para pekerja dapat membangun solidaritas, merawat memori kolektif dan menyampaikan pesan keadilan dengan lebih luas.
"Menjadi sumber energi baru bagi gerakan buruh DIY dan menguatkan suara melalui karya seni, ekspresi budaya, dan kreativitas kolektif," ucapnya.
Deklarasi Lentera Buruh menjadi titik terang baru dalam gerakan pekerja DIY. Seni dan budaya bukan hanya ornamen, tetapi bagian dari strategi perjuangan yang mampu menjangkau lebih banyak hati dan pikiran. Melalui gebrakan baru ini, buruh DIY menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan kehidupan yang layak, perlindungan yang kuat, dan ruang budaya yang merdeka.
"Bersatu, melangkah bersama, dan merayakan perlawanan yang manusiawi dan membebaskan," tegasnya.
Agenda terdekat, Lentera Buruh akan menyelenggarakan event Festival Kebudayaan Kelas Pekerja pertama kalinya pada bulan Desember 2025. Garis besar event tersebut di antaranya produksi karya kolektif, panggung ekspresi dan kegiatan rutin seni dan budaya.
Dalam kesempatan yang sama, Irsad, sapaan akrabnya, menyampaikan usulan penting terkait kebijakan ketenagakerjaan 2026. Di antaranya terkait Penetapan UMP & UMK 2026 yang Berkeadilan. MPBI DIY menekankan perlunya penetapan upah yang benar-benar mencerminkan kebutuhan hidup layak (KHL) di Yogyakarta yang berada di kisaran 3,6 juta-4juta. Mendesak Revisi UU Ketenagakerjaan tanpa omnibus law. Meminta pemerintah meninjau kembali aturan yang memperlonggar sistem kerja fleksibel, mempermudah PHK, serta menurunkan nilai pesangon. Pengaturan PKWT dan outsourcing juga harus diperketat agar tidak menjadi celah eksploitasi.
Kemudian tuntutan untuk memperluas Perlindungan Jaminan Sosial Seluruh pekerja formal, informal, maupun kreatif harus mendapatkan jaminan sosial yang layak. MPBI menekankan perlunya penyederhanaan mekanisme, penghapusan potongan yang tidak sesuai, dan perluasan akses untuk kelompok rentan.
"Pengakuan terhadap Budaya Kelas Pekerja. Kesenian dan budaya yang tumbuh dari pengalaman pekerja harus menjadi bagian dari kebijakan perlindungan sosial. MPBI mendorong ruang-ruang kreatif yang aman dan inklusif bagi para buruh dan pekerja seni," jelasnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin