JOGJA - Memasuki musim hujan dengan intensitas tinggi seperti saat ini, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap potensi kerusakan bangunan. Terutama bagi rumah-rumah lama yang jarang dirawat.
Hujan deras yang mengguyur selama beberapa hari memang bisa memicu kerusakan. Namun faktor utama justru berasal dari kondisi fisik bangunan yang telah menurun dan minimnya perawatan secara berkala.
Pakar Teknik Struktur dan Bahan Konstruksi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr Ir Restu Faizah menjelaskan, sebagian besar kasus rumah roboh saat musim hujan disebabkan oleh kelalaian dalam pemeliharaan struktur. "Air hujan yang merembes ke bagian penting bangunan seperti atap, dinding, dan pondasi menjadi penyebab utama kerusakan," katanya, Sabtu (8/11).
Ia menerangkan, ketika musim hujan yang paling perlu diwaspadai adalah air yang masuk ke bagian struktur. Misalnya pada atap, jika kayu sudah lapuk dan tidak diperiksa, lama-kelamaan bisa roboh.
"Drainase yang buruk juga bisa membuat air menggenang dan menambah beban pondasi, apalagi bila pondasi dibangun tanpa lapisan kedap air," terangnya.
Restu menegaskan, kualitas material bangunan memiliki peran besar terhadap ketahanan rumah, khususnya di wilayah dengan curah hujan tinggi seperti Jogja. Pemilihan bahan yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan dapat mempercepat pelapukan bahkan menimbulkan risiko keselamatan penghuni.
"Untuk daerah yang sering hujan, bahan bangunan sebaiknya tahan air. Kolom dan dinding harus diplester agar air tidak rembes. Kalau betonnya terlalu porus, air bisa menembus ke tulangan dan bisa korosi," ulasnya.
Restu menambahkan, masyarakat sering kali belum memahami pentingnya menyesuaikan bahan bangunan dengan risiko bencana lokal. Ia menyarankan penggunaan material ringan dan tahan air agar struktur bangunan tidak terbebani saat kondisi basah.
Secara prinsip masyarakat harus memahami kondisi geografis sebelum membangun. Kalau di daerah curah hujan tinggi, pilih kayu yang sudah tua dan dipelitur, serta dinding diplester rapat. "Selain itu juga gunakan atap ringan agar tidak menambah massa bangunan saat basah," tambahnya.
Selain ancaman kerusakan fisik, musim hujan juga meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor, terutama di kawasan dengan topografi rawan. Karena itu, perencanaan rumah dan lingkungan perlu memperhatikan sistem drainase dan kontur tanah di sekitar lokasi.
Untuk mencegah kerusakan dan potensi korban, Restu mendorong adanya mitigasi struktural dini melalui program pemeriksaan kondisi rumah lama. Ia mengusulkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam bentuk penilaian kelayakan struktur bangunan.
"Pemerintah bisa memberi edukasi pentingnya perawatan rumah, sementara perguruan tinggi dapat berperan melalui pengabdian masyarakat," pesannya.
Di samping itu, ia juga menguraikan bahwa dosen dan mahasiswa teknik bisa membantu memeriksa kondisi struktur rumah-rumah tua di desa. Lalu, memberikan rekomendasi bagian mana yang perlu diperbaiki.
Dengan sinergi tiga pilar itu, yakni masyarakat, pemerintah, dan dunia akademik, Restu berharap risiko kerusakan bangunan akibat musim hujan dapat ditekan. "Sekaligus memperkuat budaya hidup aman dan tangguh bencana di lingkungan tempat tinggal," tandasnya. (iza/laz)