JOGJA - Pameran Arsip dan Ilustrasi dengan tajuk Petak Umpet Sastra Anak digelar di Bentara Budaya Yogyakarta 7-16 November. Pameran tersebut mengajak pengunjung untuk bernostalgia dan menggali kembali jejak sastra anak Indonesia.
Karya sastra anak pernah tumbuh subur di Indonesia dengan penulis lokalnya di era 1970-1980an. Pameran tersebut merupakan bukti perjalanan karya seni visual dan narasi buku anak di Indonesia yang saat ini mulai surut gaungnya.
“Sudah saatnya petak umpet ini kita selesaikan, tidak terus umpet-umpetan," ujar Penggagas Pameran Arsip dan Ilustrasi Petak Umpet Sastra Anak Sindhunata saat ditemui di lokasi pameran, Sabtu (8/11).
Romo Sindhu, sapaan akrabnya, mengatakan walaupun proses pameran dan dokumentasi serta analisa yang dikumpulkan terbatas waktu, namun pameran tersebut menjadi upaya mendengungkan kembali sastra anak Indonesia.
"Menggali kembali jejak sastra anak di Indonesia," ucap adik dari mendiang penulis cerita anak kawakan Dwianto Setyawan itu.
Pameran tersebut diselenggarakan oleh Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Museum Anak Bajang, dan Bentara Budaya. Tujuan yang disematkan juga untuk peringatan setahun wafatnya Dwianto Setyawan, penulis buku anak Indonesia yang produktif tahun 1970-1980an.
Sastrawan penulis novel Anak Bajang Menggiring Angin itu menyampaikan bahwa karya-karya yang telah ia tulis berkat motivasi dari mendiang kakaknya. Sastrawan sastra anak lainnya yang juga populer di tahun 1970an diantarannya seperti Djokolelono, Arswendo Atmowiloto, Bung Smas, dan Kembangmanggis.
"Melalui pameran ini kami ingin memperjuangkan bahwa literasi anak, khususnya sastra anak sangatlah penting," tandasnya.
Kurator Pameran Hanputro Widyono menambahkan telah mengkurasi sekitar 200-300an arsip milik Dwianto Setyawan bersama dua kurator pameran lainnya. Dari jumlah tersebut, terseleksi menjadi 102 arsip yang dipamerkan.
"Sastrawan pembuat sastra anak cenderung tak sepopuler karya sastra dewasa seperti Marah Rusli, Abdul Muiz yang lahir di masa kolonial Belanda, tapi masih kita ingat sampai hari ini," paparnya.
Pameran tersebut, lanjutnya, untuk memantik lahirnya sastrawan-sastrawan dengan karya sastra anak yang baru. Mengembalikan perhatian publik terhadap buku-buku anak karya penulis Indonesia, khususnya kategori novel middle grade yang pertama kali terbit tahun 1974 sampai sekarang.
"Seiring waktu, novel anak semakin jarang menjadi buah bibir. Bahkan, banyak di antara karya sastra anak dan pengarangnya dilupakan," ucapnya.
Pameran tersebut, diharapkan bisa mewadahi diskusi tentang sastra anak, sastra anak yang klasik, hingga upaya mewariskan karya ini dari generasi ke generasi.
Saat memasuki ruang pameran, pengunjung diajak bernostalgia seperti melintasi mesin waktu. Karya ikustrasi bacaan anak yang terbit di tahun 70 an terpampang di setiap dinding galeri. Pengunjuk dapat menyusuri proyek Inpres, banjir buku anak terjemahan, perjalanan DS Group melawan banjir buku anak terjemahan itu dengan komik dan ilustrasi, melihat novel-novel middle grade yang meraih penghargaan, hingga mengikuti kebangkitan kembali novel anak di Indonesia hari-hari ini. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun