JOGJA - Di era 2000-an awal, ketika internet belum semasif sekarang, Majalah Pulsa menjadi salah satu rujukan utama bagi masyarakat yang ingin tahu kabar terkini soal teknologi dan gawai terbaru.
Nama majalah ini sempat begitu populer, terutama di kalangan mahasiswa dan pekerja muda yang haus informasi soal ponsel.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dhimas Aryo Vipha Ananda, yang juga Ketua Konsentrasi Broadcasting UMY, mengaku masih mengingat betul masa kejayaan majalah tersebut.
"Sekitar tahun 2000-an awal, kalau ingin cari referensi HP dan update soal merek dan produk terbaru, ya lewat Majalah Pulsa. Itu sudah jadi sumber utama," kata Dhimas pada Radar Jogja, Jumat (7/11/2025).
Lahir di tahun 1980, Dhimas menuturkan bahwa ketika ia hijrah ke Jogja untuk kuliah di ISI Yogyakarta pada 1999, media cetak seperti majalah dan tabloid teknologi menjadi jendela informasi utama kala itu.
"Majalah Pulsa itu isinya lengkap. Ada informasi teknologi digitalisasi, spesifikasi HP terbaru, sampai kuis. Layout dan desainnya khas, mirip-mirip dengan tabloid teknologi lain di masa itu," ujarnya.
Menurutnya, di era tersebut di saat belum banyak orang memiliki akses internet, sehingga media cetak seperti majalah menjadi medium utama untuk memperoleh informasi sekaligus membangun jejaring dan komunitas.
"Dari majalah itu, orang bisa tahu spesifikasi HP, tren merek, bahkan membentuk pergaulan. Setelah baca, biasanya jadi bahan obrolan dan tukar informasi di tongkrongan," tutur Dhimas.
Dari sisi ekonomi, Dhimas mengingat bahwa harga Majalah Pulsa saat itu cukup tinggi bagi mahasiswa, berkisar antara Rp15 hingga Rp18 ribu per edisi. Karena itu, tidak sedikit yang memilih membaca di tempat atau meminjam dari teman.
"Harga segitu sudah bisa buat makan dua kali. Jadi biasanya ya baca bareng di warung, di toko, atau pinjam teman," kenangnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan, di masa itu, pasar ponsel didominasi oleh beberapa merek tertentu, seperti Nokia, Sony Ericsson, dan Siemens.
Dari yang diingatnya, produk baru bermunculan nyaris setiap tiga sampai enam bulan sekali, hal tersebut turut memperkuat posisi Majalah Pulsa sebagai media dengan daya tarik tinggi.
Namun, seiring perkembangan internet dan pergeseran pola konsumsi media, Majalah Pulsa akhirnya berhenti terbit dalam format cetak dan beralih ke platform digital menjadi Tabloidpulsa.id.
Secara objektif Dhimas melihat bahwa adanya perubahan itu sebagai konsekuensi logis dari era digital yang saat ini sangat masif terjadi.
"Dulu arus komunikasi masih lewat media cetak. Sekarang, semuanya bergeser ke digital. Audiens ingin cepat, ringkas, dan mudah diakses," jelasnya.
Diakuinya, Majalah Pulsa tentu jadi salah satu entitas yang punya peran besar bagi generasi yang tumbuh di awal 2000-an. Namun demikian, saat ini eranya sudah serba cepat dan digital. Sehingga adaptasi juga senantiasa dibutuhkan.
"Majalah seperti Pulsa punya peran besar di masanya, tapi tantangan media sekarang adalah bagaimana tetap relevan di tengah perubahan perilaku audiens," pungkas Dhimas. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva