JOGJA - Upaya penanganan stunting kini terus digenjot oleh Pemerintah Kota (Pemkot).
Sebab prevalensi stunting selama satu tahun ini ditarget harus menyentuh angka satu digit.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SGSI) tahun 2024 prevalensi stunting di Kota Jogja menyentuh 14,8 persen.
Untuk tahun ini ditargetkan mencapai dibawah 10 persen.
Baca Juga: Prediksi Benfica vs Bayer Leverkusen Liga Champions Kamis 6 November Kick Off 03.00, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?
Hasto mengatakan, mencapai target di bawah dua digit untuk prevalensi stunting sejatinya hal yang mudah.
Lantaran kondisi demografi dan sumber daya manusia di Kota Jogja sudah cukup mendukung penurunan stunting.
Misalnya, dari jumlah penduduk yang tidak sampai 500.000 jiwa.
Kemudian juga didukung oleh 495 Tenaga Pendamping Keluarga (TPK). Serta alokasi dana Rp100 juta per tahun untuk setiap kelurahan.
Baca Juga: Kandang Sapi Mbah Kardi Jadi Kantor Polisi Zombie: Kisah Warga Ngijo di Balik Layar Abadi Nan Jaya
“Maka dari itu untuk akhir Desember stuntingnya harus turun di bawah dua digit, artinya satu digit itu harga mati," ujar Hasto.
Dia mengatakan hal itu seusai mengisi Graduation Program 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) dalam program Si Penting "Aksi Pencegahan Stunting” di Balai Kota Jogja, Rabu (5/11/2025)
Hasto menegaskan, kunci utama penurunan prevalensi stunting adalah mengimplementasikan prinsip zero new stunting.
Upayanya dengan melakukan intervensi ketat sejak fase prakonsepsi (sebelum kehamilan) dan memantau kelahiran setiap hari.
Baca Juga: Lokasi Syuting di Balik Film Abadi Nan Jaya: Pesona Yogyakarta yang Menggugah
Oleh karena itu, dia menaruh atensi khusus terhadap Dinas Kesehatan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) untuk melakukan pendampingan penuh.
Terkhusus bagi balita dan calon pengantin.
Menurut Hasto, pendampingan bagi calon pengantin bisa dilakukan dengan memastikan kesiapan fisik sebelum memasuki masa kehamilan.
Misalnya lewat skrining ukuran lingkar lengan dan berat badan.
Baca Juga: Sinopsis Film Abadi Nan Jaya: Film Zombie Indonesia yang Mengguncang di Netflix
“Kalau angkanya kurang, jangan dihamili dulu. Kasih dulu telur, kasih ikan, agak gemuk dikit baru hamil,” jelasnya.
Selain itu, untuk mempercepat penurunan stunting Pemkot Jogja juga gencar melibatkan pihak ketiga melalui melalui program Bapak Asuh Anak Stunting.
Kerjasama yang sudah terjalin misalnya dengan PT Sarihusada Generasi Mahardhika (SGM) untuk menjadi bapak asuh di kelurahan Sorosutan dan Tahunan kemantren Umbulharjo.
Baca Juga: Bantuan Langsung Tunai Sementara Tak Kunjung Cair Bikin Keluarga Penerima Manfaat Risau, Bigini Penjelasan Kemenkeu
Hasto mengungkap, saat ini Pemkot Jogja juga tengah berupaya mencarikan bapak asuh bagi 630 kasus risiko tinggi stunting lainnya.
Dia berharap dengan usaha kolaborasi multipihak dan melibatkan Corporate Social Responsibility (CSR) itu angka stunting bisa turun lebih cepat.
Dia pun berharap, antara data prevalensi stunting nasional dengan daerah nantinya bisa terjadi kecocokan.
Sehingga dapat ditetapkan formula yang tepat penanganan stunting di Kota Jogja.
Sebab berdasarkan data di Dinas Kesehatan prevalensi stunting sudah turun menjadi 9,7 persen.
Baca Juga: Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2025: Dari Simbol ke Aksi Nyata
“Hasil SSGI dari Kemenkes, itu hasil yang kami tunggu,” tuturnya.
Sementara itu, Kader Posyandu Jahe 2 kelurahan Tahunan Fransiska Estu Dwiyanti menyampaikan, program Si Penting cukup memberikan berbagai manfaat kepada kader.
Sebab bersama dengan para mitra para kader memperoleh ilmu dan peningkatan terkait dengan kebutuhan gizi pada anak.
Termasuk melakukan program home visit.
Baca Juga: Prediksi Ajax vs Galatasaray Liga Champions Kamis 6 November Kick Off 03.00, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?
Hanya memang, kader di kelurahan Tahunan masih banyak menghadapi kendala.
Misal, masih banyak ibu yang merasa sudah memiliki informasi tentang kecukupan gizi anak melalui internet.
Sehingga sulit menerima masukan dari kader.
Selain itu, juga ada beberapa kasus ibu hamil yang menghadapi masalah kekurangan energi kronis (KEK) namun enggan untuk ditangani oleh kader posyandu.
Contohnya tidak mau datang pendampingan meski sudah diundang.
Baca Juga: Topan Maut Terjang Filipina, Korban Tewas Tembus 60 Jiwa
“Ada juga ibu yang hanya mementingkan kenyang, sehingga gizi atau makanan bagi anak tidak diperhatikan."
"Makanan yang diberikan cenderung makanan seperti gorengan, camilan, atau yang kurang bergizi,” beber Fransiska. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin