JOGJA - Sirine early warning system (EWS) banjir tepat pukul 09.30 di enam titik aliran sungai berbunyi Selasa (4/11). Bukan karena bencana banjir, tapi relawan yang sedang menggelar simulasi di enam titik aliran sungai.
Pantauan Radar Jogja di EWS Sungai Winongo, para relawan Kampung Tangguh Bencana (KTB) Pingit tampak sigap berkoordinasi saat sirine berbunyi. Mereka segera melakukan mitigasi dan menyelamatkan diri saat Sungai Winongo seolah-olah meluap.
Ketua KTB Pingit Syamsul Hari mengatakan, lewat simulasi tersebut masyarakat menjadi lebih siap menghadapi bencana di musim penghujan. Sebab jika sirine EWS sudah berbunyi, maka masyarakat bantaran sungai tinggal melakukan antisipasi mandiri.
“Sehingga dampak korban jiwa maupun harta benda bisa diantisipasi,” ujar Syamsul di sela simulasi.
Menurutnya, ada beberapa poin penting mitigasi ketika terjadi banjir atau luapan sungai di Sungai Winongo. Misalnya, warga harus segera mengevakuasi diri ketika ketinggian air sudah berada di atas batas normal.
Selain itu, relawan KTB Pingit juga melakukan koordinasi dengan KTB di kampung lain yang berada di kawasan hilir. Upaya itu diharapkan dapat membuat warga lain bisa mengevakuasi diri. Sehingga meminimalisasi timbulnya korban nyawa maupun benda.
Baca Juga: Kecelakaan KA Bangunkarta di Prambanan, Tewaskan Tiga Orang, Enam Lainnya Luka-Luka Termasuk Balita
“Berdasarkan pengalaman, memang pernah ada kasus air masuk rumah, sehingga warga yang di bawah harus naik ke tempat pengungsian sementara," ungkap Syamsul.
Simulasi serupa juga turut digelar di EWS Kali Buntung yang berada di Kampung Blunyahrejo, EWS Sungai Code di Kampung Bintaran, EWS Kali Belik di Kampung Pengok Kidul, dan EWS Sungai Gajah Wong di Kampung Ponggalan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat menyampaikan, pihaknya memiliki 26 EWS. Fungsinya dipastikan normal dan dapat menjadi bentuk kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir.
Nur menyatakan, berdasar prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), intensitas hujan meningkat sejak Oktober hingga Januari 2026. Selama periode itu bencana banjir dan longsor kemungkinan meningkat.
Selain mengoptimalkan fungsi EWS, Nur juga memperkuat koordinasi antarKTB. Sebab peralatan EWS bisa saja tidak berfungsi apabila dihadapkan kondisi cuaca ekstrem. Misal jika listrik atau jaringan internet mati.
Guna tetap mengoptimalkan koordinasi, BPBD Kota Jogja sudah menyiapkan jaringan radio antar KTB. Sehingga relawan nantinya bisa berkomunikasi dengan pemerintah ketika menghadapi gangguan EWS.
“Kami tersambung lewat komunikasi radio dengan teman-teman KTB tiap jam 09.00-21.00,” jelas Nur. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita