JOGJA - Keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) di sejumlah kawasan strategis kota Jogja, terutama di sekitar area wisata, hotel, dan rumah makan, dinilai cukup meresahkan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono, menilai kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian serius.
Deddy mengungkapkan, dalam beberapa kesempatan dirinya melihat langsung dan kerap menerima laporan dari wisatawan yang menginap di hotel, dan merasa terganggu dengan keberadaan gepeng di sekitar area penginapan.
"Gelandangan dan pengemis cukup menganggu wisatawan yang stay di hotel, kalau itu ditertibkan saya lebih setuju, agar tidak berkeliaran, dan tidak memaksa," katanya, Sabtu (1/11/2025).
Namun, ia juga menyadari bahwa penertiban tersebut bukan perkara mudah.
Menurutnya, langkah tersebut harus dilakukan secara hati-hati dan terukur agar tidak menimbulkan masalah sosial baru.
"Kalau benar-benar bisa diatur, ditata. Ini hal yang positif, tapi perlu hati-hati," ungkapnya.
Secara umum, Deddy mendukung program atau visi dari Pemkot Jogja yang tengah menggencarkan penertiban dan penjangkauan gepeng setelah dicanangkannya program Jogja Zero Gepeng.
Ia berharap program tersebut tidak hanya berorientasi pada penertiban, tetapi juga pembinaan dan pemberdayaan.
"Seperti memberi pelatihan soal attitude, sapta pesona pada pengamen juga harus dilakukan," pesannya.
Menurutnya, nilai budaya dan citra khas Jogja perlu dijaga agar tetap menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Di mana, nilai budaya dan ciri khas tersebut juga bisa diajarkan kepada para gepeng.
"Nilai budayanya harus dijaga dan ditonjolkan, dari pakaian yang dipakai, konten atau kegiatan apa yang ditampilkan. Jadi punya daya tarik kalau semua bisa selaras dan disesuaikan dengan budaya kota Jogja," ujarnya.
Sementara itu, salah satu wisatawan asal Surabaya Rika Putri, mengaku sempat merasa tidak nyaman dengan banyaknya pengemis dan pengamen di sekitar kawasan Malioboro dan area hotel tempatnya menginap.
"Pas malam-malam makan di sekitar Malioboro, banyak banget yang minta uang atau ngamen. Jadi agak kurang nyaman," ungkapnya.
Rika berharap pemerintah bisa menata persoalan tersebut tanpa menyingkirkan sisi kemanusiaan.
Di samping itu, juga perlu untuk memikirkan kenyamanan para wisatawan.
"Saya paham mereka juga cari nafkah, tapi mungkin bisa dibina supaya lebih tertib dan nggak ganggu wisatawan," ujarnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva