RADAR JOGJA - Busana adat merupakan busana yang secara turun-temurun dipakai oleh kelompok masyarakat pada zamannya.
Dengan ciri-ciri yang menunjukan budaya yang diciptakannya dan berkembang selaras dengan perkembangan kebudayaannya.
Surakarta dan Yogyakarta dahulu adalah merupakan kesatuan di bawah pemerintahan yang sama yaitu Kraton Surakarta.
Setelah perjanjian Gianti, wilayah Surakarta dibagi menjadi dua, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.
Kini Surakarta dan Yogyakarta walau pernah menjadi satu kesatuan tetapi keduanya memiliki beberapa perbedaan karakter, juga perbedaan pakaian atau busana adatnya.
Berikut beberapa perbedaan busana adat Surakarta dan Yogyakarta:
1. Blangkon
Perbedaan dari keduanya ada di bagaian belakang, pada gelung belakang. Yogyakarta gelungannya menonjol lebih besar, sedangkan Surakarta berbentuk pipih, kempes.
Dari kedua perbedaan itu, keduanya memiliki makna filosofis yang berbeda.
Pada zaman dahulu banyak pria jawa yang berambut panjang, karena itu banyak yang menggelung rambutnya ke belakang menyatu dengan ikat kepada, sehingga blangkon Yogyakarta ada benjolan atau gelungannya.
Ada juga yang memaknai gelungan tersebut ibarat dengan aib yang harus disembunyikan, baik aib sendiri maupun orang lain.
Menyimpan perasaannya sendiri dan menjaga perasaan orang lain.
Tetap dipaksa tersenyum walaupun menangis atau marah.
Hal ini menjadi watak orang jawa secara umum.
Karena watak yang halus dan menjaga untuk tidak blak-blakan.
Sedangkan Surakarta, yang lebih dekat dengan orang pemerintahan kolonial, maka orang-orang Surakarta sudah mengenal cukur rambut.
Jadi blangkon Surakarta hanya mengikatkan kedua pucuk tali menjadi satu, dua ikatan ini ibarat dua kalimat syahadat yang harus diikat kuat dan dijadikan pegangan hidup.
Blangkon memiliki dua filosofis. Pertama diletakkan di kepala agar produk yang dihasilkan itu berupa ide, pemikiran, konsep dan harus selalu sesuai degan nilai-nilai agama islam.
Kedua, blangkon diibaratkan (makrokosmos) atau pemilik alam semesta, sedagkan kepala adalah (mikrokosmos), yaitu manusia yang memiliki arti dalam menjalankan amanahnya harus selalu tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta.
2. Surjan dan Beskap
Busana adat Yogyakarta disebut dengan Surjan.
Ada dua macam motif dari surjan, yaitu motif surjan lurik dan surjan kembang.
Sedangkan Surakarta, busana adatnya disebut Beskap, bentuknya seperti jas yang didesain sendiri oleh orang Belanda yang berasal dari kata beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan.
Perbedaan Surjan dan Beskap yang paling terlihat atau menonjol adalah terletak pada bentuk kancing.
Pada gaya Surakarta bentuk kancingnya berada di samping, tetapi pada gaya Yogyakarta letak dari kancingnya berada lurus dari atas ke bawah.
3. Corak Batik
Perbedaan corak batik pada keduanya berada pada warnanya.
Model batik Yogyakarta berwarna putih dengan corak hitam, sedangkan batik Surakarta berwarna kuning dengan corak tanpa putih.
Penggunaan kain batik keduanya berbeda.
Di Kraton Yogyakarta terdapat aturan menggunakan batik ini, yaitu untuk acara perkawinan, kain batik yang digunakan harus bermotif Sidomukti, Sidoluhur, Sidoasih, Taruntum dan Grompol.
Sedangkan untuk acara mitoni, kain yang boleh digunakan, yaitu kain batik bermotif Ppicis Ceplok Garudo, Parang Mangkoro atau Gringsing Mangkoro.
Kedua batik dari Surakarta maupun Yogyakarta banyak memiliki pola yang sama dikarenakan berasal dari sumber yang sama, yaitu pola batik Keraton Mataram.
Banyak kesamaan dari polanya meski namanya berbeda, seperti Parang Srpa dari Surakarta, di Yogyakarta dikenal dengan golang galling.
Pola liris cemeng di Surakarta, di Yogyakarta rujak senthe.
Perbedaan yang nyata dalam menggunakan wastra batik pola parang dan lereng.
Pada Surakarta, wastra batik dililitkan dari kanan atas miring ke kiri bawah.
Sedangkan pada Yogyakarta miring dari kiri atas ke kanan bawah.
Meskipun memiliki ciri khas masing-masing, keduanya tetap memiliki makna dan simbol masing-masing juga.
Meskipun memiliki perbedaan dalam banyak aspek, tetapi keduanya memiliki tujuan yang sama untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia. (Priskila)
Sumber:https:///2012/10/perbedaan-busana-adat-jogjakarta-dan.html
Editor : Meitika Candra Lantiva