JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja menekankan pentingnya konsep prakonsepsi sebelum menikah.
Sebab merupakan salah satu upaya untuk menekan kasus stunting.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, mayoritas pasangan menikah di Indonesia cenderung fokus terhadap persiapan prosesi pernikahannya.
Padahal melahirkan anak yang sehat dan tidak stunting justru lebih penting ketika sudah berkeluarga.
Sehingga, Hasto meminta agar pasangan yang akan menikah bisa menggeser pola pikir supaya lebih fokus terhadap prakonsepsi dibandingkan prewedding.
Sehingga pasca menikah bisa melahirkan anak yang tidak stunting atau mengalami kekurangan gizi.
“Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak fase pranikah dengan prakonsepsi, serta pemenuhan nutrisi yang seimbang,” ujar Hasto di sela Festival Sehat Ceria di Kecil di Taman Pintar, Minggu (26/10/2025).
Mantan Bupati Kulonprogo itu menyatakan, Pemkot Jogja memang tengah fokus untuk mencegah kasus stunting baru.
Sebab tingkat keberhasilannya bisa mencapai 70 persen dengan langkah tidak menambah kasus stunting baru.
Kondisi itu, kata Hasto, berbeda jika bayi terlahir dengan kondisi sudah stunting.
Untuk tingkat keberhasilan penanganannya hanya 20 persen.
Sehingga kemungkinan besar tetap akan stunting hingga dewasa.
Lewat upaya tersebut, diharapkan angka prevalensi stunting tahun ini bisa turun.
Dari tahun sebelumnya sebesar 14,7 persen menjadi 9,7 pada akhir tahun nanti.
Disamping itu, pemkot juga terus menggandeng kerja sama dengan swasta untuk membantu penanganan stunting.
Salah satunya melalui Festival Sehat Ceria si Kecil yang dilaksanakan bersama dengan K-24 Group dan Sarihusada.
Dalam kegiatan itu ada skrining tumbuh kembang anak, edukasi gizi keluarga.
Serta itu diikuti oleh lebih dari 1.200 peserta yang terdiri dari anak-anak dan orang tua.
Founder & CEO K-24 Group Gideon Hartono menyatakan, melalui jaringan apotek yang sudah tersebar pihaknya akan membantu peningkatan kesehatan keluarga.
Yakni dengan memberikan Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PMMK) kepada anak di atas satu tahun yang telah terindikasi stunting sesuai dengan resep dokter.
Program tersebut akan berjalan tiga sampai sampai enam bulan kepada anak penerima sasaran.
Serta dapat diakses melalui gerai K-24 yang sudah mencapai 850 titik di 166 kota/kabupaten, dan 30 provinsi di Indonesia.
“Kami ingin hadir bukan hanya sebagai tempat memperoleh obat, tetapi juga sebagai mitra kesehatan keluarga Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Sales Director Sarihusada Rizki Imam Ardhi menyebut, dengan kolaborasi bersama dengan pemkot diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi dan layanan nutrisi kepada masyarakat.
“Selama lebih dari 71 tahun, Sarihusada terus berkomitmen untuk memastikan kecukupan nutrisi anak bangsa dan secara aktif berkontribusi dalam pencegahan stunting,” beber Rizki. (inu)
Editor : Meitika Candra Lantiva