JOGJA - Dinas Perhubungan (Dishub) DIY memberlakukan penambahan waktu menjadi lima jam penutupan lalu-lintas kawasan Malioboro untuk kendaraan bermotor tertentu.
Upaya full pedestrian ini dilakukan untuk menjadikan kawasan vital tersebut sebagai kawasan rendah emisi.
"Kami sudah menambah jam semi pedestrian dengan harapan kendaraan sudah mulai berkurang untuk hariannya," ujar Kepala Dishub DIY Chrestina Erni Widyastuti saat dikonfirmasi Jumat (24/10/2025).
Penambahan jam tersebut sudah diberlakukan mulai minggu lalu. Sebelumnya, penutupan di Kawasan Malioboro berlaku dari pukul 18.00-21.00, saat ini diperpanjang dengan waktu mulai lebih awal yaknu pukul 17.00-22.00 atau lima jam penutupan.
"Selama itu yang diizinkan melintas adalah becak kayuh, becak tenaga alternatif, andong dan angkutan umum seperti Trans Jogja," jelasnya.
Menurutnya, becak motor (bentor) sejatinya dilarang untuk melintas saat penutupan.
Namun, di lapangan masih banyak pengendara bentor yang nekat untuk melintas. Konsekuensinya, dishub akan melakukan penertiban secara bertahap demi mewujudkan program kawasan rendah emisi.
"Kalau sekarang masih ada yang bandel ya gimana, masyarakat belum bisa memahami kebijakan pemerintah untuk mengurangi polusi di area itu," tandasnya.
Selain itu, ia juga mengupayakan pengadaan becak listrik pada 2026 dengan menggandeng beberapa pihak sebagai penyedia.
Pemprov DIY bersama Pemkot Jogja menyediakan anggaran untuk pengadaannya.
"Kalau perencanaan tahun depan tambah 50 unit. Karena anggaran terbatas kami berupaya dengan kemitraan biar lebih banyak lagi," tambahnya.
Salah satu pengemudi becak listrik Paimin mengatakan, bantuan becak listrik dari Pemprov DIY telah diadakan sebanyak dua kali.
Pertama pada 2023 sebanyak 50 unit untuk dibagikan ke tiga koperasi dan 40 unit pada 2025. "Total baru 90 unit becak alternatif listrik dari pemerintah," ungkapnya.
Pun ia mendukung dan akan mengikuti aturan pemerintah terkait rencana pelarangan becak motor melintas di kawasan sumbu filosofi.
Namun, ia meminta agar pemerintah juga menambah jumlah unit becak listrik yang saat ini baru ada 90 unit.
"Cuma 90 itu gak ketara, kalau bisa dinas pariwisata ikut berpartisipasi me-loby direktur hotel berbintang untuk mengadakan bantuan unit becak alternatif bertenaga listrik. Jangan malah becak motor," jelasnya.
Ia membagikan pengalaman dua tahun menggunakan becak listrik. Bantuan yang turun pada 2024 komponennya masih ditanggung selama satu tahun untuk kerusakan tidak sengaja oleh penyedia. Untuk kerusakan body ada jaminan selama lima tahun.
"Kemarin ada unit becak yang baterainya mati, tapi langsung diganti baru kok," terangnya.
Menurutnya selama pemakaian aman dan tidak ada kendala berarti. Daya tahan baterai pada becak listrik juga relatif irit dan bisa diisi di mana saja.
Ia mencontohkan temannya yang rumahnya Jetis, Bantul dengan jarak sekitar 22 kilometer, daya baterai becak listriknya masih tersisa banyak.
"Saya nge tem di mana gitu biasanya diperbolehkan kok kalau mau ngecas," bebernya. (oso/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita