Dari total penduduk tersebut, 50,48% atau setara 393.253 jiwa adalah perempuan, sementara 385.797 jiwa adalah laki-laki.
Kepala Dinas Dukcapil Gunungkidul, Markus Tri Munarja, mengatakan bahwa sebaran penduduk di wilayahnya menunjukkan pola yang relatif merata, namun tetap didominasi oleh kawasan tengah dan utara, khususnya Kecamatan Wonosari, Playen, Semanu, dan Karangmojo.
“Wonosari masih menjadi pusat pertumbuhan penduduk dengan jumlah mencapai lebih dari 91 ribu jiwa. Di sisi lain, wilayah seperti Purwosari dan Girisubo memiliki kepadatan yang jauh lebih rendah, karena faktor topografi dan aksesibilitas,” ujar Markus, Selasa (21/10).
Dukcapil juga mencatat total 269.773 kepala keluarga (KK) di Gunungkidul. Sebagian besar kepala keluarga berjenis kelamin laki-laki, yaitu 82,58 persen, sedangkan perempuan yang menjadi kepala keluarga mencapai 17,42 persen.
Fenomena meningkatnya jumlah kepala keluarga perempuan menurut Markus menjadi cerminan perubahan sosial dan ekonomi yang signifikan.
“Peningkatan peran perempuan sebagai kepala keluarga, baik karena faktor ekonomi, migrasi tenaga kerja, maupun kondisi sosial seperti perceraian atau ditinggal pasangan,” ungkap Markus.
Selian itu, Markus menilai meski kesadaran masyarakat dalam administrasi kependudukan terus meningkat, masih terdapat pekerjaan rumah besar dalam hal kepemilikan akta kelahiran.
Dari total 779 ribu penduduk, baru 425.734 orang yang tercatat memiliki akta kelahiran. Sementara itu, 353.316 jiwa belum memilikinya.
Kepala Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil Umi Puji Riyanti menilai, rendahnya kepemilikan akta kelahiran sebagian besar disebabkan oleh faktor geografis dan kebiasaan administrasi di pedesaan.
“Masih ada anggapan bahwa akta baru diperlukan ketika anak masuk sekolah,” jelas Umi.
Ia menambahkan, Dukcapil Gunungkidul kini aktif melakukan layanan jemput bola ke sekolah, posyandu, dan kalurahan untuk mempercepat pencatatan dokumen kependudukan.
Selain itu, menurut Umi pihaknya juga turut menggandeng Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan agar setiap anak yang lahir atau masuk PAUD langsung terdaftar.
“Target kami dalam dua tahun ke depan, kepemilikan akta kelahiran bisa menembus di atas 80 persen,” ujarnya. (bas)
Editor : Bahana.