JOGJA - Sebanyak 1.000 penjamah makanan Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Jogja telah mendapatkan bimbingan teknis peningkatan kualitas layanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu sebagai antisipasi problematika dan insiden keracunan program MBG terulang lagi di DIY.
Bimtek tersebut telah digelar selama dua hari di Hotel Sahid Raya, Kota Jogja yang diikuti oleh petugas maupun relawan SPPG di Yogyakarta. Tujuannya, untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas tenaga penjamah pangan.
"Kegiatan itu menjadi sarana penting dalam membangun kesadaran SPPG sebagai garda depan pelaksana MBG mengenai pentingnya higienitas, keamanan, dan keberlanjutan pangan," ujar perwakilan dari Badan Gizi Nasional (BGN) Irfan Ardianto dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (20/10/2025).
Beberapa pakar dari instansi terkait kuga diundang untuk menjadi pemateri bimtek. Mulai dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Pendidikan Kota Jogja serta persatuan ahli gizi Indonesia (PERSAGI).
"Sebagai Kota Pelajar, Jogja punya tanggung jawab besar termasuk kelancaran program MBG," tuturnya.
Adanya insiden keracunan maupun permasalahan MBG di Kota Jogja, ia minta tim untuk segera tindak lanjuti dengan cepat dan tanggap. Irfan juga menekankan agar semua pihak yang terlibat dalam program MBG menguatkan komitmen meningkatkan profesionalitas pelaksanaan program.
Baca Juga: Raport Merah untuk Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Buruh DIY Sampaikan Tujuh Tuntutan
"BGN ada strategi baru dengan sepuluh langkah yang wajib diterapkan SPPG untuk meningkatkan layanan MBG, yang mencakup aspek teknis, manajerial, dan kualitas pelayanan," jelasnya.
BGN akan menempatian 5.000 chef profesional dari Indonesian Chef Association (ICA) di SPPG baru untuk transfer pengetahuan dalam pengolahan makanan bergizi dan aman. Melakukan rapid test food berkala oleh Balai POM guna menjamin keamanan pangan. Menerapkan wajib Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi setiap SPPG. Memanfaatkan platform LMS Plataran Sehat Kementerian Kesehatan untuk pembelajaran daring bagi tenaga pelaksana.
Selanjutnya mewajibkan penggunaan air bersih berstandar kesehatan serta sterilisasi alat makan dengan air panas 80°C. Penambahan tenaga ahli gizi agar pendampingan gizi lebih optimal, penerapan sertifikasi halal untuk memastikan kepatuhan nilai keagamaan, pemasangan CCTV di dapur SPPG untuk menjamin transparansi dan pengawasan proses produksi, menjaga kepatuhan terhadap Standard Operating Procedure (SOP) sebagai dasar tata kelola layanan yang profesional dan akuntabel dan penguatan edukasi dan monitoring berkelanjutan untuk menjaga mutu pelayanan MBG.
Baca Juga: Menjelang Hari Santri Nasional 2025: Sejarah, Tema, dan Makna Yang Ada
"Bimtek di Jogja ini bagian dari rangkaian bimtek yang diselenggarakan oleh Direktorat Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II BGN secara serentak di 34 kabupaten/kota di enam provinsi," jelasnya.
Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II BGN, Nurjaeni menyampaikan bimtek dilakukan untuk memastikan bahwa setiap penjamah makanan memiliki kompetensi dan keterampilan yang memadai dalam seluruh tahapan penyediaan makanan bergizi. Mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga distribusi kepada penerima manfaat.
"Penjamah makanan bukan hanya tugas teknis, tetapu juga tugas sosial dan ibadah," ujarnya.
Bimtek yang dilakukan serentak itu diharapkan membentuk jaringan penjamah pangan yang kompeten, beretika dan berdedikasi. Mereka menjadi garda terdepan memastikan setiap anak Indonesia memperoleh makanan yang layak, sehat, dan bergizi seimbang.
"Menyediakan gizi bagi anak-anak menuju Generasi Emas 2045," jelasnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin