JOGJA - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) DIY akan berikan tindakan kepada SPPG WIrobrajan pasca kasus keracunan siswa SMA Negeri 1 Jogja yang diduga karena Makan Bergizi Gratis (MBG). Banyak siswa yang trauma hingga ratusan porsi MBG tidak diambil.
Kepala Disdikpora DIY Suhirman membenarkan adanya kejadian keracunan yang menimpa ratusan siswa SMAN 1 Jogja. Dugaan sementara yakni karena MBG. Beberapa tindakan akan segera dilakukan Disdikpora DIY untuk mendalami kasus tersebut.
"Ini kami akan tindaklanjuti seperti pada kesepakatan MoU kemarin yang kami bahas antara SPPG dengan sekolah," ujar Suhirman saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (16/10).
Ia berjanji akan menindaklanjuti kasus itu dengan melakukan koordinasi, khususnya kepada pengelola SPPG Wirobrajan. Itu sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada para korban karena menjadi lihak distributor MBG di wilayah tersebut.
Ia juga telah menyampaikan kepada pihak sekolah agar para siswa yang tidak berangkat sekolah dipastikan dengan mendatangi rumahnya masing-masing. "Ini kan yang 426 (siswa) itu sudah banyak yang berangkat. Tinggal 32 yang masih di rumah dan itu tidak diopname di rumah sakit," ucapnya.
Selain itu, ia akan melakukan evaluasi pada menu MBG di SPPG tersebut. Bedasarkan informasi awal yang ia terima, manajemen produksi dan distribusi dari SPPG menjadi penyebab dugaan keracunan tersebut.
"Informasinya kan (proses) masaknya harusnya SD sama SMA dibedakan, karena SMA kan kebih siang (distribusinya). Jangan disamakan dengan SD," paparnya.
Saat ditanyai mengenai pemberian sanksi kepada penyelenggara SPPG, pihaknya akan melakukan pencermatan terlebih dahulu. Menurutnya, sanksi bisa ditentukan apabila pokok permasalahan dan kesalahannya sudah diketahui.
"(Akan memanggil pihak SPPG) jelas karena sebelumhya kami sudah bertemu dengan perwakilan dari korodinator SPPG se Jogja membahas kemanan distribusi MBG supaya aman dikonsumsi oleh siswa siswa kita," jelasnya.
Dalam pertemuan tersebut, telah disepakati apabila ada suatu kesalahan dari pihak SPPG terhadap distribusi MBG, maka SPPG yang berperan dominan dalam penanganannya. Kemudian harus ada perbaikan dari sisi manajerial di SPPG. "Misal untuk penanganan terhadap anak-anak yang sakit," tandasnya.
Dari kejadian itu, ia menekankan kepada emua SPPG agar memastikan MBG higenis dan segar. Bahkan kesepakatannya, SPPG diminta untuk memberi lebel jam kadaluwarsa pada makanan ketika akan dibagikan kepada siswa.
"Tapi kan mungkin baru kemarin kami kordinasi, sehingga pelaksanaanya nanti menyesuaikan dengan SPPG dan sekolah-sekolah," jelasnya.
Dari informasin yang ia dapat, dampak kasus keracunan di SMAN 1 Jogja itu menjadikan paket MBG yang dibagikan kemarin (16/10) banyak yang tidak diambil. Ada sekitar 420 porsi yang tersisa.
"Ini banyak siswa yang tidak mau makan, akibat yang kemaren itu. Ya, karena mungkin trauma. Kami akan langsung evaluasi dengan SPPG-nya," tegasnya. (oso/laz)