JOGJA - Pemkot Jogja mulai melakukan penelusuran terkait dugaan keracunan MBG di Kemantren Wirobrajan. Hasilnya, kasus keracunan ditemukan pada dua sekolah dengan total korban mencapai 491 siswa. Sebanyak 426 orang merupakan siswa SMAN 1 Jogja, sementara 65 orang lainnya siswa SMA Muhammadiyah 7 (Mutu) Jogja.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, kasus keracunan kemungkinan disebabkan oleh infeksi bakteri. Hal itu merujuk pada gejala yang dialami para siswa. Yakni sakit perut yang terjadi 12 jam pasca siswa mengonsumsi MBG.
Adapun di SMAN 1 Jogja diketahui siswa mengonsumsi MBG pada Rabu (15/10) sekitar pukul 11.20. Kemudian mengalami gejala keracunan pada pukul 01.00 hari berikutnya.
"Jika disebabkan oleh toksin yang sifatnya non-bakterial, gejalanya biasanya cepat. Muncul dalam beberapa menit atau jam berupa muntah-muntah,” ujar Hasto seusai meninjau SMAN 1 Jogja, Kamis(16/10).
Ia mengaku, dari total 426 siswa SMAN 1 Jogja ada 32 orang yang mengalami gejala cukup parah berupa mual dan diare. Puluhan siswa itu juga terpaksa tidak bisa mengikuti kegiatan belajar. Lalu dipantau kondisinya oleh pihak sekolah.
Mantan bupati Kulonprogo itu menyatakan, pihaknya juga sudah mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Penghentian sampai hasil uji laboratorium sampel makanan keluar dengan waktu satu hingga dua minggu.
SPPG yang beralamat di Jalan Arjuna itu, selama ini memberikan MBG bagi 3.444 siswa. Tersebar di SD BOPKRI Wirobrajan, SD Muhammadiyah 3 Wirobrajan, SD Muhammadiyah 2 Wirobrajan, SDN Tamansari, SDN Tegalmulyo, SMP BOPKRI 5 Jogja, SMAN 1 Jogja, dan SMP Muhammadiyah 7 Jogja.
"Yang ditengarai ada dampak dari makan ini, yang SMA saja. Yang SMP dan yang SD, ini tadi kami cross-check tidak ada yang bermasalah,” jelas Hasto.
Hasto mengaku juga sudah melakukan pengecekan standar operasional SPPG Wirobrajan. Hasilnya, untuk sarana maupun proses penyiapan makanan di SPPG sudah memenuhi standar.
Namun diketahui, ayam yang dikonsumsi oleh siswa SMAN 1 Jogja dan SMA Muhammadiyah 7 Jogja merupakan menu baru. Hasto enggan berspekulasi perihal kandungan pada menu ayam itu sebelum hasil laboratorium keluar.
"Kami tetap harus menunggu hasil laboratorium, apakah itu karena kontaminasi bakteri atau karena yang lain,” katanya.
Sementara itu, perwakilan dari SPPG Wirobrajan enggan berkomentar terkait dugaan kasus keracunan para siswa. “No comment, no comment,” ujar seorang pria yang merupakan pengurus SPPG. (inu/laz)