JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mulai menggencarkan program Zero Gepeng.
Konsekuensinya, sejumlah titik yang sebelumnya tidak terduga menjadi tempat tinggal gelandangan pun menjadi sasaran penertiban. Salah satunya di Makan Purbo Kusumanegara.
Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja Erva Wifata mengatakan, penertiban telah berjalan sejak Minggu (12/10/2025). Tiga orang diamankan yakni seorang pria dan wanita beserta anaknya.
Satu orang pria merupakan warga Sleman dan mengaku sebagai juru kunci. Namun karena tidak memiliki bukti kuat sebagai juru kunci, pria tersebut kemudian diminta untuk kembali ke rumahnya.
“Untuk warga Sleman bersedia tidak lagi menginap di makam dan hanya akan berada di makam pada siang hari,” ujar Erva saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Senin (13/10/2025).
Sementara berdasarkan hasil wawancara petugas, untuk penanganan gelandangan ibu dan anak, kedua orang tersebut sebelumnya memiliki rumah di Sayidan. Namun sudah tidak ditempati karena dijual.
Baca Juga: Suasana Nyaman Cafe Jempolan, Pilihan Tepat untuk Kumpul Keluarga dan Mengerjakan Tugas di Jogja
Erva menyatakan, petugas kemudian memberi pemahaman kepada gelandangan ibu dan anak tersebut.
Sehingga keduanya pun bersedia menyewa kamar kos dan berjanji tidak lagi tinggal di makam.
“Sebelum tinggal di makam, mereka mengontrak, namun mengalami kesulitan finansial hingga akhirnya tinggal di area makam,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jogja Octo Noor Arafat mendukung program Zero Gepeng.
Dengan memberi dukungan selama monitoring dan penertiban. Sebab tidak jarang para gelandangan dan pengemis (gepeng) melawan ketika bertemu petugas.
Octo menyebut, sampai saat ini masih terus melakukan pendataan terhadap gepeng yang sudah ditertibkan. Namun hingga Agustus lalu sudah ada 62 gepeng berhasil diamankan.
Baca Juga: Tim EPA PSIM Jogja Debut Mengejutkan di Laga Tandang Melawan PSM Makassar
Dia mengakui, ada beberapa titik yang masih menjadi atensi penertiban. Salah satunya di sepanjang Jalan Batikan. Kawasan tersebut diketahui kerap menjadi tempat mangkal manusia gerobak.
“Kami berharap masyarakat bisa turut membantu penanganan gepeng. Salah satunya dengan tidak memberi uang atau barang,” pesannya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita