JOGJA - Sebelum hadirnya Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah, program serupa sebenarnya telah berjalan di beberapa sekolah di DIJ, khususnya sekolah dengan konsep boarding school atau pondokan. Tanpa diiringi kabar keracunan siswa atau lauk basi misalnya.
Lalu, hadirnya program MBG apakah berfungsi mendukung program sebelumnya, atau justru sebaliknya? Radar Jogja telah melakukan investigasi ke beberapa sekolah di DIJ yang sudah menjalankan program makan gratis siswa-siswinya. Salah satunya adalah Madrasah Mu'alimin Muhammadiyah Jogjakarta.
"Mu'alimin itu lembaga pendidikan berbasis pesantren. Jadi sebelum ada MBG, pengadaan makan itu kami lakukan secara mandiri secara rutin sejak puluhan tahun lalu," ungkap Direktur Madrasah Mu'alimin Muhammadiyah Jogjakarta Dr Mhd Lailan Arqam M.Pd kepada Radar Jogja, Minggu (12/10).
Hadirnya program MBG di sana baru menyasar SMA dan SMP Mu'alimin, sedangkan Mu'alimat yang berisi santri putri belum mendapatkan. Mereka menerima MBG sejak April tahun ini. Selain menjadi penerima MBG, Mu'alimin juga ditunjuk menjadi salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah sekitarnya.
Ada sekitar 3.000 penerima MBG di wilayah Dapur SPPG Mualimin. Sedangkan santri Mualimin ada sekitar 1.600. "Kami punya dapur, terus sekalian ditunjuk menjadi dapur SPPG," paparnya.
Jika sebelumnya dapur itu hanya memproduksi makanan untuk santri Mualimin saja, sekarang juga menyediakan untuk beberapa sekolah di sekitarnya. Kepengelolaan langsung diserahkan kepada pihak SPPG.
"Terkait variasi menu dan sebagainya, semua yang menentukan sekarang SPPG dan timnya," jelasnya.
Menurutnya, program MBG cukup membantu karena yang sebelumnya menyediakan tiga kali makan sehari, kini hanya dua kali. Satu jadwal makan didukung dengan MBG. Karena konsepnya pondokan, para santri mendapatkan makan pagi, siang, dan malam.
"Sebagai jaminan, kalau terjadi apa-apa kami tinggal cek lab sampel itu. Kami tidak mau menjadi fitnah kalau terjadi apa-apa," tandasnya.
Belum ada catatan yang berarti terkait penyelenggaraan MBG di Mualimin. Para santri kebanyakan hanya mengadukan perihal menu yang kurang suka dan porsinya yang sedikit.
Ia memaklumi hal itu, karena menu MBG telah sesuai aturan takaran kandungan gizi. Sedangkan santri pondok terbiasa diberi makan dengan porsi yang relatif banyak.
"Perbedaan paling signifikan itu tentang variasi makanan yang lebih variatif dibandingkan makanan yang disediakan oleh pondok," jelasnya.
Ia mengusulkan untuk penyelenggara MBG agar jangan terlalu berorientasi pada proyek besar. Baik yang ditunjuk sebagai mitra maupun pihak yang terlibat dalam program nasional MBG.
Bagi dapur penyedia MBG yang baru, diharapkan bisa melakukan study tiru agar manajemen produksi dan distribusi MBG tidak berdampak buruk. (oso/laz)