JOGJA - Timbulan sampah organik basah yang berasal dari sisa makanan masih menjadi persoalan di Kota Jogja.
Pemerintah kota (pemkot) menarget bisa mengatasi permasalahan tersebut dengan program emberisasi dimulai dari tingkat rukun tetangga (RT).
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, program emberisasi yang diinisiasi oleh organisasi perangkat daerah (OPD) mampu mereduksi timbulan sampah sisa makanan sebanyak 10 ton. Sehingga program tersebut akan terus dikembangkan.
Baca Juga: Siapa Pemilik Ponpes Lirboyo? Viral Ratusan Santri Ikut Ngecor Bangunan, Pengasuh: Amal Jariyah
Sebagaimana diketahui, OPD di Kota Jogja memang diminta untuk memaksimalkan program emberisasi dengan pendampingan di tingkat kelurahan.
Terhitung dari periode 22 September hingga 2 Oktober 2025 sudah ada 421 ember yang disalurkan OPD.
“Sepuluh ton sisa makanan yang sudah kami amankan, pada bulan Desember ini kami targetkan bisa mengambil 50 ton,” ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Timoho, Senin (6/10/2025).
Bupati Kulon Progo 2011-2019 itu menjelaskan, skema pengentasan sampah sisa makanan itu dimulai dari tingkat RT.
Setiap RT sudah dibekali dengan ember yang mampu menampung 25 kilogram sampah organik.
Hasto menyebut, jika satu RT di Kota Jogja bisa menyumbang minimal satu ember organik.
Maka target 50 ton sampah sisa makanan yang diambil oleh penggerobak dan terkelola bersama offtaker pun bisa tercapai.
“Ini juga sekaligus bagian dari tanggung jawab bersama untuk tidak membuang-buang makanan,” tambahnya.
Seiring dengan pembentukan ekosistem pengolahan sampah sisa makanan tersebut, pemkot juga tengah menggencarkan program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos).
Menurutnya, selama sepekan ini program tersebut akan terus digencarkan. Sebab Kota Jogja sudah mendapatkan kuota pembuangan ke TPA Piyungan sebesar 3 ribu ton.
Sehingga diharapkan dapat menghabiskan tumpukan sampah di depo.
“Hanya yang sulit itu mencegah deponya agar tidak terisi, sehingga minggu ini kami gerilya di masyarakat supaya sampah tidak perlu dibawa ke depo,” tegas Hasto.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Rajwan Taufiq menyampaikan, saat ini sudah ada tiga offtaker yang bersedia menampung timbulan sampah organik basah dari Kota Jogja.
Mereka merupakan peternak kambing, babi, hingga pembudidaya ikan yang mampu menyerap satu ton sampah sisa makanan per hari.
Rajwan pun berkomitmen untuk terus menambah jumlah offtaker. Targetnya pada satu kelurahan minimal harus ada satu offtaker.
Sehingga sampah organik basah yang mampu terolah bisa lebih besar. “Saya berharap satu kelurahan satu offtaker, sehingga waktu pengambilannya lebih cepat dan disiplin,” katanya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita