Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Trah HB II Dapat Akses, Pengembalian Manuskrip yang Dirampas Saat Geger Sapehi 1812 Temui Titik Terang

Rizky Wahyu Arya Hutama • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 20:21 WIB
Kepala Seksi Asia Tenggara British Library Annabel Gallop saat berfoto dengan manuskrip yang dirampas saat Geger Sapehi 1812. 
Kepala Seksi Asia Tenggara British Library Annabel Gallop saat berfoto dengan manuskrip yang dirampas saat Geger Sapehi 1812. 

JOGJA - Upaya pengembalian aset manuskrip milik Sultan Hamengku Buwono II yang dirampas Inggris pada peristiwa Geger Sapehi 1812 mulai menemukan titik terang.

Trah Sultan HB II telah menerima surat resmi dari Kepala Seksi Asia Tenggara British Library Annabel Gallop terkait pengembalian manuskrip tersebut.

Dalam surat yang diterima oleh Trah HB II menyebutkan bahwa pihaknya telah mendapat akses terbuka untuk metadata dari seluruh 482 manuskrip Indonesia dan Melayu yang tersimpan di British Library termasuk manuskrip Jawa.

Pihak British Library juga menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan balasan karena adanya upaya untuk melampirkan informasi tambahan yang signifikan.

Ketua Yayasan Vasatii Socaning Lokika yang sekaligus Trah Sultan HB II, Fajar Bagoes Poetranto menjelaskan dalam data yang dapat oleh Yayasan Vasatii Socaning Lokika ada total 75 manuskrip Jawa yang berasal dari Yogyakarta pasca serangan ke Kraton pada tahun 1812.

Lalu ada juga 120 manuskrip kertas dan sekitar 50 manuskrip daun lontar Jawa lainnya, termasuk yang juga berasal dari Jogjakarta dan Pura Pakualaman.

Manuskrip.
Manuskrip.

"Kami berharap materi yang diberikan dapat memberi manfaat dan menjadi masukan berharga dalam merumuskan rencana Yayasan Vasatii Socaning Lokika untuk arah penelitian dan kolaborasi ke depan," katanya, Sabtu (4/10/2025).

Setelah menerima surat resmi tersebut, lanjut Fajar, pihak Yayasan Vasatii Socaning Lokika secara resmi juga akan menyampaikan undangan kepada seorang pakar dunia untuk mengunjungi Indonesia, dengan pilihan lokasi di Yogyakarta atau Jakarta.

Undangan ini bertujuan untuk berdialog Private-to-Private (P2P) mengenai pelestarian dan studi manuskrip Jawa yang tak ternilai harganya.

"Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari korespondensi sebelumnya dan pembagian metadata terkait manuskrip Jawa yang telah dilakukan oleh pakar yang diundang," jelasnya.

Tak hanya itu, Yayasan Vasatii Socaning Lokika yang sejak awal berjuang untuk mendapatkan gelar pahlwan nasional untuk Sultan HB II, saat ini juga tengah menjalankan beberapa inisiatif jangka panjang yang signifikan.

Inisiatif itu diantaranya, transliterasi dan studi terhadap lebih dari 7.500 manuskrip yang belum diterjemahkan, termasuk naskah-naskah sakral seperti Serat Suryorojo dan Serat Nyogyakarta.

 

Manuskrip.
Manuskrip.

Lalu, Pendirian Pusat Penelitian Budaya dan Manuskrip yang didedikasikan untuk peradaban Jawa pra-kolonial.

Penyusunan proposal kolaborasi dengan British Library untuk menjajaki kerangka akses yang etis, pengayaan metadata, serta infrastruktur digital yang aman untuk teksteks warisan.

Selain itu, Yayasan Vasatii Socaning Lokika juga sedang mempersiapkan pertemuan meja bundar dengan sejumlah pihak terpilih, termasuk para akademisi, filolog, arsiparis, dan pemangku kepentingan budaya.

"Pertemuan tersebut akan berfokus pada pembahasan modalitas kemitraan dengan institusi-institusi di Inggris, mencakup isu-isu terkait akses digital, interpretasi bersama, dan perlindungan integritas intelektual naskah," ucap Fajar. (ayu)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Dirampas #Geger Sapehi 1812 #British Library #Yogyakarta #Trah HB II #Yayasan Vasatii Socaning Lokik #pengembalian #pura pakualaman #Sultan Hamengku Buwono II #Jogjakarta #Manuskrip #akses