Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hentikan dan Evaluasi Total Progam MBG, Begini Kritik Pedas Ibu-Ibu Gerakan Suara Ibu Indonesia Yogyakarta dalam Aksi Panci

Agung Dwi Prakoso • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 01:23 WIB

 

Ibu-ibu dari komunitas Suara Ibu Indonesia menggelar aksi dan diskusi terkait keberlanjutan program MBG, di kawasan Bundaran UGM, Kamis (3/10/2025).
Ibu-ibu dari komunitas Suara Ibu Indonesia menggelar aksi dan diskusi terkait keberlanjutan program MBG, di kawasan Bundaran UGM, Kamis (3/10/2025).

SLEMAN - Para perempuan yang tergabung dalam Gerakan Suara Ibu Indonesia Yogyakarta kembali menggelar aksi Kenduri Suara Ibu Indonesia kedua kalinya di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (3/10/2025).

Selain membunyikan panci dan peralatan dapur seperti aksi pertama, mereka juga menggelar diskusi dengan seluruh massa aksi.

Para peserta aksi mayoritas merupakan perempuan yang menggunakan pakaian dominan warna cerah. Aksi ini sebagai bentuk protes terhadap program makan bergizi gratis (MBG).

Salah satu peserta yang cukup familiar adalah Siti Fauziah Saekhoni pemeran Bu Tejo dalam film Tilik dan Bu Tejo Sowan Jakarta yang juga ikut aksi.

"Mudah mudahan pemerintah sadar diri. Kalau salah itu ya katakan salah jangan kemudian mbulet karepe dewe," ujar Fauziah saat ditemui di lokasi aksi.

Ia mengajak kepada masyarakat agar serempak dan menyepakati bersama untuk terbuka apabila menemukan kesalahan dalam distribusi MBG. Agar protes dan kritik yang diberikan tidak hanya seglintir orang.

Baca Juga: Rektor UII dan Busyro Muqqodas Ajukan Penangguhan Penahanan M Fakhrurrozi atau Paul, 'Aktivis Bukan Musuh Negara'

"Jangan cuma satu dua sing protes sing liyane berdasarkan perasaan ga enak ga berani ngomong. Kita ngomong bersama itu supaya (pemerintah) tahu diri," serunya.

Menurutnya, pemerintah adalah pihak yang dipercaya mengelola kebijakan yang baik untuk rakyat.

Apabila ada kebijakan yang tidak membuahkan hal yang baik, masyarakat dianggap bisa mempertanyakan kinerja pemerintah.

Baca Juga: Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Ambruk Melewati Masa Golden Time, Kini Alat Berat Diterjunkan Proses Evakuasi

"Kita ini sebagai rakyat mempercayai mereka sebagai pemimpin, mengatur kebijakan baik untuk kita, ning kok secara praktik endak ini bagaimana pertanggung jawabannya," ucapnya.

Menurutnya, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG. Ia kembali menegaskan agar masyarakat dan seluruh pihak tidak takut bersuara.

Terlebih, takut kehilangan keuntungan untuk beberapa pihak dan menjadi lembek.

"Ini tidak cuma soal nyawa, ini hak dasar sebagai manusia. Saya membayangkan ibu-ibu yang setiap hari menjaga dan merawat anak-anaknya dari kecil malah menerima program dari pemerintah yang abai terhadap hak kita sebagai manusia," jelasnya.

Baca Juga: Genjot Skrining Tuberkulosis, Ahmad Luthfi Luncurkan Program Speling Melesat dan TB Express

Ia kemudian membalikkan apabila kasus keracunan MBG terjadi di keluarga para pemangku kebijakan. Sebelum didistribusikan, MBG yang akan diberikan kepada anak-anak diujicobakan diberikan kepada mereka.

"Makanan (MBG) ini setiap hari dikonsumsi bapak baru diberikan kepada kami sebagai rakyat. Jadi keracunan-e ibarat-e diminimalisasi di bapak dulu," tandasnya.

Dia menilai, walaupun program MBG merupakan cita-cita mulia, namun akan tetap tidak pantas apabila praktiknya buruk. Terlebih, program itu juga memakan banyak anggaran.

"Negorone dewe ki isih akeh PR asline, jadi tolong mari kita berbenah meletakkan kepentingan bersama untuk rakyat," paparnya.

Baca Juga: Kapal Sumud Flotilla Dicegat Israel, Ribuan dari Belahan Negara Turun Melakukan Aksi Protes

Pegiat Suara Ibu Indonesia Jogjakarta Kalis Mardiasih mengatakan, gerakan tersebut mengkritik desain tata kelola program MBG yang sentralik dan militeristik.

Penyediaan pangan rantai produksi sampai konsumsi dinilai sentralistik tidak berbasis komunitas dan keluarga.

"Muncul keracunan itu bisa kita cek kualitas bahan baku, proses distribusi, mekanisme penyimpanan, dan sebagainya," ujarnya.

Baca Juga: Semarak Peringati Hari Batik Nasional, Pemkab Kulon Progo Ajak Pelajar hingga Mahasiswa Perguruan Tinggi Belajar Membatik

Ia juga mengkritisi terkait tidak terlibatnya petani lokal dalam MBG. Mislanya susu yang disajikan merupakan susu kemasan UHT pabrikan.

Bukan dari petani lokal contohnya Boyolali dan daerah lainnya. "Kita harus memeriksa rantai pasok penyediaan pangan ini," bebernya. Ia mendesak agar program tersebut dihentikan kemudian dilakukan evaluasi total. (oso/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Mbg #Program makan bergizi gratis (MBG) #aksi panci