JOGJA - Puluhan anak-anak membatik secara langsung di atas kain yang membentang sepanjang 16 meter di Kompleks Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (2/10). Itu sebagai rangkaian untuk memperingati Hari Batik Nasional yang ke 16 tahun.
"Bimbingan divisi batik dalam program bimbingan seni Art For Childrens (SFC) mengapresiasi hari batik dengan membentangkan kain sepanjang 16 meter dan dibatik bersama," ujar Kepala TBY Purwiati saat ditemui di TBY.
Penentuan angka 16 dalam kain yang akan dibentangkan juga memuat makna tersendiri.
Angka 16 digunakan untuk menandai perjalanan karya batik yang telah berumur 16 tahun sejak ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan.
Tepatnya pasca dikeluarkannya Kepres Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2009 yang menjadikan tanggal 2 Oktober resmi ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.
"Yang terlibat sekitar 50-an anak dari AFC kelas membatik bisa lebih dengan seniman atau pihak terkait lainnya," bebernya.
Anak-anak yang dilibatkan, paling kecil ada yang berumur 5-6 tahun. Batik hasil guratan di kain sepanjang 16 meter itu nantinya akan dieksplorasi oleh para seniman kontemporer lintas generasi yang akan menampilkan karya koreografi tari.
Dinamakan lintas generasi karena koreografer yang terlibat terdiri atas berbagai kalangan umur. Mulai umur 20 tahun sampai seniman senior umur 50 tahun.
"Harapannya ini menjadi ruang perjumpaan pertemuan ide gagasan dari generasi muda dan senior yang memiliki pengalaman lebih," paparnya.
Acara ini merupakan kali kedua yang diselenggarakan TBY menggunakan dana alokasi khusus (DAK). Pada penyelenggaraan awal, kain yang digunakan lebih panjang yakni 150 meter.
"Ada partisipasi dari Taman Budaya Kalimantan Selatan, yang menampilkan karya tari berupa kekayaan seni pertunjukan daerah sebagai wujud silaturahmi dan pertukaran budaya antar-Taman Budaya," ucapnya.
Salah seorang kurator ekspresi seni kontemporer lintas generasi Anter Asmorotedjo menjelaskan, di Jogja rata-rata pementasan yang difasilitasi pemerintah merupakan seni kerakyatan atau klasik. Ia berharap fasilitasi itu dimanfaatkan dengan maksimal.
"Kontemporer hanya hiburan. Karya idealis jarang ada fasilitas. Tetapi ini yang membedakan memfasilitasi seniman kontemporer yang mereka di dalam perjalanannya cukup produktif berkarya tapi kurang ruang ekspresi," jelasnya. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun