JOGJA - Peniadaan Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) tahun ini cukup merugikan kalangan pengusaha hotel di Yogyakarta.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY pun menyarankan agar agenda wisata tahunan itu bisa dilaksanakan pihak swasta.
“Kami berharap WJNC tahun depan masih bisa berjalan, kalau perlu melibatkan atau diserahkan ke pihak swasta. Kami akan mendukung sepenuhnya,” ujar Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono beberapa waktu lalu.
Deddy menilai, perlunya dilaksanakan WJNC karena selama ini cukup mendongkrak okupansi hotel.
Bahkan juga berdampak bagi pelaku usaha lain seperti restoran dan UMKM.
Misalnya di WJNC tahun lalu, okupansi hotel menyentuh 60 persen dari 5 hingga 7 Oktober 2024.
Sementara di wilayah tengah atau berdekatan dengan kawasan Malioboro dapat mencapai 80 persen.
Di samping itu, agenda wisata yang selalu khas dengan pawai wayang itu juga dapat mendongkrak pendapatan asli daerah karena banyaknya kunjungan wisatawan.
Sebab tidak hanya menjadi daya tarik wisatawan lokal namun juga mancanegara.
“Sehingga jika WJNC ditiadakan yang rugi bukan hanya sektor hotel dan restoran, tapi PAD Kota Jogja juga akan berdampak,” beber Deddy.
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, tidak diselenggarakannya WJNC tahun ini karena perintah pemerintah pusat.
Arahannya melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai tindak lanjut efisiensi anggaran.
Hasto menjelaskan, pemerintah daerah dilarang untuk menggelar kegiatan yang bersifat perayaan.
Termasuk salah satunya perhelatan WJNC yang sudah menjadi kalender wisata nasional.
Hasto mengakui, dengan tidak diselenggarakannya WJNC cukup berdampak bagi sektor pariwisata di Kota Jogja.
Namun demikian, dia berharap agar semua lapisan masyarakat dan sektor usaha bisa memahami keputusan tersebut.
“Pak Mendagri setiap seminggu, dua tiga kali pasti selalu berpesan agar kami tidak menampilkan euforia dan glamoritas yang menunjukkan pemerintah banyak berlebihan anggaran,” jelas Hasto. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita