JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mulai menyiapkan skema penataan bagi para pengamen di kawasan wisata Malioboro.
Salah satu bentuknya dengan menetapkan beberapa titik khusus seperti panggung di kawasan vital tersebut.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, dengan upaya itu para pengamen bisa menampilkan ekspresinya tanpa harus mengganggu wisatawan yang sebelumnya banyak mengeluh.
“Saat ini sedang kami petakan (titik panggung), namun kemungkinan dari Teteg (Jalan Abu Bakar Ali) hingga Malioboro hanya lima titik,” ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja, Rabu (24/9/2025).
Hasto menyebut, sementara ini sudah ada lima titik di sepanjang Jalan Abu Bakar Ali hingga Jalan Malioboro yang akan digunakan sebagai panggung bagi pengamen.
Hanya memang jumlah itu belum final, dan bisa bertambah maupun berkurang ketika direalisasikan nantinya.
Dia menjelaskan, upaya penataan itu diharapkan juga dapat mengatur jumlah pengamen yang ada di Kota Jogja.
Sebab panggung yang akan dihadirkan di Malioboro hanya khusus bagi pengamen yang sudah terdaftar oleh Pemkot Jogja.
Hasto mengaku, pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan pendataan terhadap pengamen di Malioboro.
Pendataan tersebut dilakukan juga agar jumlah pengamen tidak terus bertambah.
Dia pun ingin, dalam membangun skema penataan pengamen di kawasan Malioboro itu juga bisa mendapatkan dukungan dari dana keistimewaan (danais).
Misalnya ada even tertentu yang bisa membiayai para pengamen untuk menunjukkan kebolehannya.
“Pengamen di Kota Jogja ada kuotanya, ketika sudah cukup maka tidak boleh ada pengamen baru,” tegas Hasto.
Sementara itu, Kepala Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-undangan Satpol PP Kota Jogja Dodi Kurnianto menyampaikan, hingga Agustus lalu sudah ada tujuh pengamen di kawasan Malioboro. Mayoritas merupakan pengamen baru.
Dodi menyatakan, dalam upaya penertiban pengamen di kawasan Malioboro pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan (Disbud).
Beberapa juga telah diberi sanksi teguran hingga pembinaan. “Dari tujuh yang kami tertibkan lima dibawa ke camp assessment Dinsos DIY, sementara dua diberikan teguran lisan,” bebernya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita