Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Guru Besar Fisipol UGM Prof Dr Tadjuddin Noer Effendi Sebut Job Hugging Akibat Ketidakpastian Pasar Kerja

Fahmi Fahriza • Sabtu, 20 September 2025 | 03:45 WIB

 

Guru Besar Fisipol UGM Prof Dr Tadjuddin Noer Effendi
Guru Besar Fisipol UGM Prof Dr Tadjuddin Noer Effendi
 

JOGJA - Fenomena job hugging atau kecenderungan pekerja bertahan di satu pekerjaan meski sudah kehilangan minat dan motivasi kini semakin marak di Indonesia. Kondisi ini muncul sebagai dampak ketidakpastian pasar kerja, maraknya ancaman PHK massal, hingga tekanan ekonomi yang kian berat.

Pengamat Ketenagakerjaan yang juga Guru Besar Fisipol UGM Prof Dr Tadjuddin Noer Effendi menjelaskan, fenomena ini bukanlah hal baru. Sejak lama, situasi pasar kerja yang sulit membuat masyarakat lebih memilih bertahan dalam pekerjaannya ketimbang mengambil risiko mencari yang baru.

"Mencari pekerjaan baru memiliki risiko tinggi, maka mereka cenderung memilih bertahan,” ungkap Tadjuddin Jumat (19/9).

Menurutnya, faktor keamanan finansial dan stabilitas menjadi alasan paling dominan. Dia pun menganalogikan kondisi tersebut dengan pepatah berharap burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan. “Artinya, pekerja lebih baik mempertahankan pekerjaan yang ada dibanding mengambil keputusan berisiko yang belum tentu menjanjikan masa depan lebih baik,” bebernya.

Tadjuddin menambahkan, dalam lima tahun terakhir pasar kerja di Indonesia menghadapi ketidakpastian. Angka pengangguran tercatat 7,4 persen, tertinggi di Asia Tenggara. Mayoritas berasal dari kelompok usia pencari kerja 15–24 tahun. Kondisi ini diperparah dengan laju ekonomi yang melambat serta daya beli masyarakat yang rendah.

"Permasalahan ini memiliki efek domino terhadap serapan tenaga kerja baru, terutama bagi para fresh graduate," jelasnya.

Sebagai jalan pintas, banyak pekerja kini memilih menambah penghasilan dengan pekerjaan sampingan, daripada meninggalkan pekerjaan utama. Bentuknya beragam, mulai dari pekerjaan freelance hingga bisnis kecil-kecilan.

"Daripada kehilangan pekerjaan utama, masyarakat lebih memilih mencari pemasukan tambahan dari usaha sampingan," tandas Tadjuddin. (iza/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#penghasilan #pasar kerja #pengangguran #risiko #pekerja #fenomena #Guru Besar Fisipol UGM Prof Dr Tadjuddin Noer Effendi #job hugging #pekerjaan #finansial