JOGJA - Peringatan HUT ke- 269 Kota Jogja pada 7 Oktober mendatang akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, tidak ada kegiatan yang sifatnya hingar bingar.
“Hari jadi Kota Jogja tidak ada pawai tidak ada gerak jalan, karena diminta untuk tidak terlalu banyak euforia,” ujar Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo saat ditemui di Balai Kota Jogja Jumat (19/8).
Menurutnya, kebijakan tersebut diambil karena sudah ada arahan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Yakni kewajiban pemerintah daerah memberlakukan efisiensi anggaran.
Hingar bingar peringatan HUT Kota Jogja, lanjtunya, akan diganti menjadi kegiatan bersifat kebersihan lingkungan. Tema itu diambil seiring dengan kondisi darurat sampah yang kini dihadapi.
Adapun secara umum bentuk kegiatannya berupa lomba melukis pot-pot bunga di wilayah perkotaan untuk anak sekolah. Kemudian di tingkat masyarakat umum ada lomba kebersihan kampung.
Namun agar tetap ada esensi pelestarian budaya, Hasto memastikan tetap ada ornamen budaya. Yakni dengan pemasangan penjor di pertokoan Malioboro dan hotel-hotel sebagai penanda hari jadi.
Lalu, para pedagang kaki lima yang berjualan di Teras Malioboro juga akan diminta mengenakan baju bertema adat. Misalnya dengan menggunakan kain batik atau blangkon. Upaya itu juga untuk mendukung sumbu filosofi.
“Jadi selain tema HUT Kota Jogja kebersihan lingkungan juga tema budaya, karena harus nguri-uri budaya,” jelas Hasto.
Sekretaris Daerah Kota Jogja Aman Yuriadijaya sebelumnya membeberkan, ada lima kategori yang dilombakan. Meliputi pengelolaan sampah organik secara kolektif berbasis kemantren, reduksi suplai sampah melalui transporter, dan kebersihan lingkungan.
Kemudian juga ada lomba penanganan sampah liar. Serta lomba keluarga Mas Jos yang menerapkan pilah, olah, dan memanfaatkan sampah organik juga sampah anorganik massal berbasis bank sampah.
“Lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat,” kata Aman. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita