JOGJA - Kejadian kecelakaan laut (laka laut) selama kurun waktu 2025 yang menimpa nelayan, mayoritas dialami nelayan senior yang notabene sudah hafal medan. Perhitungan tradisional dengan menghitung pergerakan ombak yang selama ini turun-temurun dilakukan pun beberapa kali meleset.
"Kemarin yang di Trisik itu juga nelayan senior, setelah kami cari informasi. Jadi kondisi gelombang air laut akhir-akhir ini sulit diprediksi," ujar Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY Catur Nur Amin saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (18/9/2025).
Berdasarkan informasi yang ia peroleh dari para nelayan, kejadian di Trisik juga dikarenakan perhitungan manual yang meleset. Pada saat perahu akan mendarat, nelayan merasa sudah sesesuai perhitungan karena sudah tidak ada lagi gelombang dari belakang.
"Ternyata ada gelombang besar dari belakang," bebernya.
Dari sana, ia menyimpulkan perhitungan secara manual tersebut memang sangat membantu para nelayan dna merupakan ilmu yang sudah sejak lama digunakan. Namun, karena cuaca sukit ditebak, para nelayan juga diimbau untuk selalu melihat prakiraan cuaca dari BMKG.
"Informasi dari BMKG itu sudah sampai ke para nelayan melalui grup wahtsapp jadi mereka bisa mengaksesnya dengan mudah," jelasnya.
Metode perhitungan tradisional yang biasa dipakai nelayan adalah mengamati tanda-tanda alam seperti pola angin, arus, dan kondisi laut, serta menggunakan pengalaman dan pengetahuan lokal. Sebelum memutuskan berlayar atau mendarat itu, para nelayan menghitung gelombang.
"Misalnya energi (gerak angin) darat dan laut itu sama nanti kan akan netral. Jadi tidak ada gelombang besar. Pada saat itu, kapal nelayan berani masuk," jelasnya.
Menurutnya, perhitungan tradisional melalui gelombang tersebut masih relevan dan cukup akurat. Para nelayan juga sudah terbiasa dengan perhitungan semacam itu. Selama ini, mereka mengandalkan ilmu titen itu untuk melihat cuaca dan gelombang.
"Misal dari awal ada peringatan gelombang besar berdasarkan peringatan BMKG, mereka sudah tidak berani melaut," paparnya.
Pihaknya mengimbau para nelayan agar tetap waspada dan hati-hati. Seperti memastikan keselamatan dengan menggunakan jaket pelampung. Barang tersebut wajib dipakai sesuai dengan ketentuan penggunaannya.
"Terlebih berhadapan dengan alam yang susah diprediksi," tandasnya.
Mereka awalnya cukup terganggu menggunakan jaket pelampung saat melaut karena merasa tidak bebas bergerak. Terutama pada saat menarik jaring di tengah laut.
"Kami tekankan, pokoknya saat mau masuk dan mendarat harus wajib pakai pelampung," tandasnya.
Menurutnya, saat ini kesadaran terkit keselamatan para nelayan sudah lebih tinggi. Mereka otomatis akan memakai pelampung apabila berangkat melaut. Bahkan di daerah Congot, para nelayan memodifikasi jaket pelampungnya sendiri agar lebih aman sesuai kebutuhan.
Ada 19 titik pendaratan perahu nelayan di seluruh DIY. Masing-masing kelompok nelayan akan saling mengingatkan untuk menjaga keselamatan dengan memastikan menggunakan pelampung sebelum e melaut kepada sesama rekannya.
"Terutama ketua kelompoknya yang akan mengawasi anggota-anggotanya," tandasnya.
Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Noviar Rahmad menyampaikan data kejadian laka laut selama tahun 2025. Mulai 1 Januari hingga 31 Agustus total terdapat 62 kejadian dengan jumlah korban 107 orang yang ditangani oleh Satlinmas Rescue Istimewa (SRI). Korban selamat 92 orang, ditemukan meninggal dunia 10 orang dan korban hilang atau tidak ditemukan sebanyak 3 orang.
"Data yang September ini belum masuk," jelasnya.
Mayoritas laka laut terjadi karena kecepakaan saat berenang maupun kapal tenggelam. Mereka yang kecelakaan saat berenang kebanyakan karean tidak mematuhi imbauan petugas. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin