JOGJA - Kota Jogja kembali berstatus darurat sampah sejak terjadi pengurangan kuota sampah ke TPST Piyungan, mulai September tahun ini. Pengurangan itu memicu terjadinya penumpukan sampah di depo Kota Jogja.
"Ini kondisi cukup darurat, karena memang Piyungan hanya bisa menerima 600 ton sebulan (sampah Kota Jogja), sedangkan produksinya 300 ton sehari," ujar Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo saat ditemui pasca menghadiri pelantikan pejabat Pemprov DIY di Kompleks Kepatihan, Jogja, kemarin (16/9).
Sampai bulan Juli tahun ini, lanjutnya, Kota Jogja masih bisa memindahkan sampah ke Piyungan dengan normal. Namun mulai Agustus hingga sampai akhir tahun ini, Kota Jogja hanya dijatah 2.400 ton untuk empat bulan. "Sebulan hanya 600 ton. Ini yang menjadi over di depo," ungkapnya.
Merespons kedaruratan sampah itu, ia berencana menghabiskan sampah di tingkat kalurahan. Khususnya sampah sisa rumah tangga agar tidak masuk ke depo dan Piyungan. Misalnya, menggerakkan masyarakat mengumpulkan sisa makanan atau sampah rumah tangga untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak, budi daya magot dan sebagainya.
"Kami akan membagikan ember ke warga, kemudian kami ambili sampah dan tidak dibawa ke depo," jelasnya.
Ia juga mulai menerapkan program bagi-bagi ember sebagai wadah makanan sisa di setiap kelurahan di Kota Jogja. Dari data yang ia peroleh, total sisa makanan dapur di Kota Jogja hampir 100-125 ton dalam sehari.
Itu berasal dari dari rumah makan, angkringan, rumah tangga dan sebagainya. "Kami ingin menyelamatkan itu untuk dipilah dengan cara membagikan ember. Ini agar tidak jadi satu dengan sampah lain," paparnya.
Satpol PP Kota Jogja, Linmas dan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) akan difokuskan untuk menyukseskan program tersebut. Mereka akan digerakkan untuk menjemput sampah ke rumah masyarakat. Khususnya sampah organik basah.
Nantinya, akan diberlakukan satu OPD mengurus satu kelurahan untuk menyelesaikan itu. "Semua dinas (sementara) jadi dinas sampah dulu, karena ini kondisi darurat," tandasnya.
Selain program pemberian ember kepada masyarakat, Hasto juga telah menambah pengadaan gerobak sampah 600 unit. Jadi total gerobak sampah di Kota Jogja 1.200 unit. Gerobak-gerobak itu akan dilengkapi dua ember dengan kapasitas 25 kg untuk satu ember.
"Kalau dulu kan penggerobak belum ada embernya. Sekarang ada embernya supaya sampah organik basah masuk ember. Tidak masuk ke depo," paparnya.
Ia juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY terkait permasalahan sampah di Kota Jogja. Pihaknya berusaha keras supaya sisa makanan itu tidak masuk ke depo-depo di Kota Jogja.
"Kami sudah matur ke Ngarso Dalem (Gubernur HB X) dan Bu Sekprov baru (Ni Made Dwipanti Indrayanti)," ujarnya. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun