JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta kembali mendeteksi adanya aktivitas siklonik 93S. Fenomena tersebut diprediksi meningkatkan potensi cuaca ekstrem.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, bibit siklon 93S terpantau di Samudera Hindia sebelah barat daya Sumatera.
Kondisi itu dapat meningkatkan tinggi gelombang laut. Khususnya di wilayah laut selatan Jawa.
Warjono memprediksi, gelombang laut bisa mencapai ketinggian dari 2,5 meter hingga 4 meter dalam beberapa hari kedepan. Oleh karena itu dia meminta agar masyarakat pesisir dan wisatawan untuk waspada.
Selain itu, menurutnya juga ada potensi cuaca ekstrem. Lantaran aktivitas siklon 93S berpengaruh kecepatan angin permukaan. Kemudian juga ada fenomena yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Baca Juga: Tekan Stunting di Paliyan, BRIN Intensifkan Program Pemberdayaan Masyarakat sampai 2027
Misalnya, dalam skala harian maupun mingguan suhu muka laut di wilayah Jawa dan Samudera Hindia selatan terpantau relatif hangat. Berkisar antara 26 hingga 29 derajat celcius dengan anomali 0,5-2,0 derajat celcius.
“Kondisi ini membuat peningkatan suplai uap air ke atmosfer, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan,” ujar Warjono dalam pesan singkatnya, Minggu (14/9/2025).
Warjono mengungkapkan, sebaran hujan di wilayah Yogyakarta berada pada kategori ringan hingga sedang. Hujan dapat sering terjadi di wilayah Sleman bagian utara, Gunungkidul bagian utara, dan Kulonprogo bagian utara.
Sehingga dia meminta agar masyarakat yang tinggal di wilayah rawan untuk mewaspadai kondisi cuaca berupa hujan yang disertai angin kencang. Salah satu langkah mitigasi adalah dengan terus memantau perkembangan cuaca melalui media resmi.
“Kami juga meminta agar pemerintah daerah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait kebencanaan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengaku, sudah berkoordinasi dengan 169 Kampung Tangguh Bencana (KTB). Lewat upaya tersebut diharapkan dapat mendorong kemandirian mitigasi ketika terjadi bencana.
Nur menyebut, berdasarkan prediksi BMKG masa pancaroba dan penghujan di Yogyakarta berlangsung dari bulan September hingga Desember. Sehingga selama masa itu pihaknya akan meningkatkan status kewaspadaan.
“Kami telah menyiagakan personel dan peralatan untuk penanganan cepat bila terjadi bencana,” ungkapnya. (inu)