JOGJA - Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) yang menjadi salah satu agenda wisata tahunan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja dipastikan tidak terselenggara tahun ini. Kondisi itu cukup berdampak pada sektor usaha hotel dan restoran di Yogyakarta.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, pihaknya cukup kaget sekaligus menyayangkan peniadaan WJNC. Lantaran kegiatan tersebut sudah menjadi kalender event nasional yang sering mendatangkan wisatawan.
Menurutnya, dengan tidak dilaksanakannya WJNC tentu akan sangat berdampak pada merosotnya pendapatan hotel dan restoran di Yogyakarta. Sebab, atraksi wisata yang dikemas dengan karnaval wayang itu setiap tahun bisa menyumbang okupansi hotel dari 60 hingga 80 persen.
Deddy mengaku, pihaknya kini hanya bisa pasrah dengan kebijakan tersebut. Upaya promosi pun terus diperkuat. Sehingga harapannya hotel dan restoran di Yogyakarta tetap bisa meraup pendapatan optimal meskipun tanpa agenda wisata WJNC.
“Sebetulnya event ini (WJNC) juga meningkatkan PAD Kota Jogja juga. Tapi mau apalagi bila sudah dibatalkan,” ujar Deddy saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Jumat (12/9/2025).
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo memastikan, WJNC tidak diselenggarakan tahun ini. Kebijakan tersebut tersebut diambil sesuai arahan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai tindak lanjut efisiensi anggaran.
Hasto menjelaskan, lewat Kemendagri pemerintah daerah dilarang untuk menggelar kegiatan yang bersifat perayaan. Termasuk salah satunya perhelatan WJNC yang sudah menjadi kalender wisata nasional.
Baca Juga: Madrid Siap Meledak: Estadio Metropolitano Jadi Panggung Final Liga Champions 2027!
Mantan Bupati Kulonprogo itu mengakui, dengan tidak diselenggarakannya WJNC memang cukup berdampak bagi sektor pariwisata di Yogyakarta. Namun demikian, dia berharap agar semua lapisan masyarakat dan sektor usaha bisa memahami keputusan itu.
“Pak Mendagri setiap seminggu, dua tiga kali pasti selalu berpesan agar kami tidak menampilkan euforia dan glamoritas yang menunjukkan pemerintah banyak berlebihan anggaran,” jelas Hasto. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin