Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Depo Sampah Membeludak hingga ke Jalan, Ini Kata DLH Kota Jogja

Zakki Mubarok • Rabu, 10 September 2025 | 01:24 WIB
PENUH: Kondisi depo sampah di wilayah Pengok yang membeludak hingga ke jalan, Kota Jogja, Selasa (9/9).
PENUH: Kondisi depo sampah di wilayah Pengok yang membeludak hingga ke jalan, Kota Jogja, Selasa (9/9).

JOGJA - Kota Jogja kembali menghadapi kondisi darurat sampah. Hal tersebut tampak dari membeludaknya sejumlah depo. Di Depo Mandala Krida, misalnya, sampah meluber hingga ke bahu jalan. Saking parahnya, akses jalan menuju depo juga sempat ditutup dengan gerobak. Lantaran ada proses evakuasi sampah menggunakan alat berat.


Pantauan Radar Jogja, kondisi serupa juga terjadi di Depo Pengok. Sampah di depo yang lokasinya tidak jauh dari kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja itu meluber hingga ke jalan.


Kepala DLH Kota Jogja Rajwan Taufiq berdalih membeludaknya tumpukan sampah di depo karena ada pembatasan pembuangan ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Kebijakan itu berdampak Pemkot Jogja hanya mendapat kuota pembuangan sebanyak 600 ton per bulan.


Jumlah itu tidak sebanding dengan produksi sampah di Kota Jogja yang mencapai 240 hingga 300 ton per hari. Dari jumlah itu, unit pengolahan sampah milik pemkot hanya mampu menangani 190 ton per hari. Sehingga, dalam sehari sampah yang belum terolah mencapai sekitar 50 hingga 110 ton.


”Di depo-depo sampai sekarang masih ada sekitar 2.000 ton (sampah tertahan),” ujar Rajwan saat menghadiri acara Mas Jos Menyapa di Kelurahan Demangan, Selasa (9/9).


Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, pejabat yang resmi dilantik sebagai kepala DLH Kota Jogja pada Senin (8/9) itu mengaku sudah berkoordinasi dengan pemprov. Agar pemkot bisa memperoleh tambahan kuota pembuangan ke TPST Piyungan.


Namun demikian, Rajwan menilai, satu-satunya solusi untuk mengatasi membeludaknya depo hanya bisa dilakukan dengan pengurangan sampah dari sumbernya. Salah satunya lewat program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos).


Agar Mas Jos lebih optimal, Rajawan memaparkan, penggrobak yang sudah bertugas di tiap RW akan dibekali dengan ember untuk menampung sampah organik sisa dapur. Agar sampah organik tersebut bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.


”Harapannya bisa mengurangi tumpukan sampah di depo,” katanya.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menambahkan, timbulan sampah organik sisa dapur mencapai 100 ton per hari. Sehingga, lewat pembagian ember harapannya bisa mereduksi sampah organik yang dibuang ke depo.


Menurutnya, pembagian ember dilakukan dalam kampanye Mas Jos di 14 kemantren. Dalam sosialisasi tersebut juga ditekankan pentingnya mengolah sampah dari sumbernya.
“Harus ada gerakan revolusioner. Yakni mengubah dari bawah,” tegasnya. (inu/zam)

Editor : Herpri Kartun
#DLH Kota Jogja #Dinas Lingkungan Hidup (DLH) #Mandala Krida #Mas JOS #Sampah #Masyarakat Jogja Olah Sampah #Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) #TPST Piyungan