JOGJA – Situasi ekonomi yang tidak menentu tak membuat Rhodiah Safitri patah arang. Ibu rumah tangga ini tetap setia merawat toko pakaian miliknya, Kebun Kemangi. Meski sempat terpukul pandemi, ia terus melanjutkan bisnis busana berbahan tradisional itu.
Nama Kebun Kemangi diambil dari nama anak pertamanya. “Brand ini saya bikin sejak 2016. Awalnya bertiga sama teman, ada yang bikin sabun, keramik, saya bagian baju,” tutur Rhodiah Safitri saat ditemui di tokonya daerah Mantrijeron, Jogja Minggu (7/9).
Sayangnya, pandemi 2020 membuat usaha bersama itu tumbang. Dua temannya mundur, menyisakan Rhodiah seorang diri. Ia pun memilih melanjutkan dengan baju-baju rancangannya. Dari situlah toko Kebun Kemangi benar-benar berdiri sendiri.
“Dulu di Suryodiningratan. Setelah tutup, saya pindah ke sini (Jl Tirtodipuran, No.3, Mantrijeron, Jogja, Red). Tempatnya lebih kecil, tapi bisa tetap jalan,” jelasnya.
Produksi tetap ia lakukan dari rumah. Menggandeng ibu-ibu rumah tangga sebagai penjahit. “Saya kasih bahan, mereka jahit dari rumah. Jadi masih bisa urus keluarga, tapi tetap dapat penghasilan,” ujarnya.
Koleksi baju-baju yang diproduksi di toko Kebun Kemanginya mengandalkan bahan-bahan natural, seperti tenun lurik hingga teknik ecoprint.
Model desain yang dibuatnya pun unik-unik. Memainkan garis lurik yang dipadukan dengan warna-warna earthy, Rhodiah mampu menghadirkan busana tradisional yang tetap terasa modern.
Teknik ecoprint juga ia manfaatkan untuk menghasilkan motif daun dan bunga yang alami, sehingga setiap helai pakaian terasa personal dan tidak ada yang benar-benar sama.
Rhodiah juga membuka kelas workshop, bahkan pernah diikuti mahasiswa ISI hingga turis asing.
“Kalau baju, harga mulai tiga ratusan sampai jutaan, tergantung desain dan pesanan,” tambahnya.
Selain dijual langsung di toko, produk Kebun Kemangi juga dipasarkan lewat Tokopedia. Pelanggan datang dari berbagai kota. Bahkan ada yang dari Malaysia. “Kalau turis biasanya beli banyak. Lokasi toko yang ada di Kedai Kebun Forum juga memudahkan, karena dekat dengan resto dan galeri yang sering didatangi tamu luar negeri,” ungkapnya.
Tak hanya berjualan, Rhodiah juga aktif di dunia fashion. Sejak 2021, ia beberapa kali ikut fashion show, dari Surabaya Fashion Trend hingga Muslim Festival di Jakarta. Ia juga terlibat dalam komunitas Funky Kebaya, yang mendorong kebaya jadi busana sehari-hari.
Meski begitu, tahun ini Rhodiah memilih menahan langkah. Ia mengurangi aktivitas di panggung mode dan lebih fokus memperkuat produksi. “Bisnis itu naik turun. Saya ambil jeda dulu, sambil menyiapkan desain baru untuk tahun depan,” ucapnya.
Bagi Rhodiah, yang terpenting bukan sekadar tren, melainkan keberlanjutan. Bagaimana busana toko Kebun Kemangi bisa tetap relevan dengan tren terkini melestarikan kain tradisi, dan sekaligus memberi penghasilan tambahan bagi sesama ibu rumah tangga. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita