Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemkot Jogja Masih Punya PR, 100 Ton Sampah Harian Belum Tertangani

Iwan Nurwanto • Minggu, 7 September 2025 | 20:00 WIB
MENUMPUK: Armada Truk DLH Kota Jogja mengirim sampah ke ITF Bawuran, kemarin (4/9).
MENUMPUK: Armada Truk DLH Kota Jogja mengirim sampah ke ITF Bawuran, kemarin (4/9).

JOGJA - Setengah tahun jabatan kepala daerah, sampah masih menjadi permasalahan pelik di Kota Jogja.

Sebab tercatat masih ada 100 ton sampah harian yang belum tertangani atau terolah dengan baik.

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, produksi sampah di Kota Jogja mencapai 290 ton per hari.

Dari jumlah itu baru 190 ton yang mampu tertangani. Sementara 100 ton sisanya masih menjadi permasalahan.

Kepala daerah yang dilantik pada 20 Februari 2025 itu menyatakan, pihaknya terus mendorong agar masyarakat mau untuk mengurangi produksi sampah.

Salah satunya lewat gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) yang diterapkan sejak dari rumah tangga. Supaya sampah bisa direduksi dari sumbernya.

Mantan Bupati Kulonprogo dua periode itu mengaku, akan memperluas cakupan Mas Jos hingga lingkungan sekolah. Sehingga diharapkan sampah yang dibuang ke depo bisa semakin berkurang.

“Kami terus mengajar masyarakat agar turut mendukung, dimulai dengan memilah kemudian mengolah sampah,” ujar Hasto dalam kegiatan temu Alumni SD Muhammadiyah Sagan, Sabtu (6/9/2024) kemarin.

Politikus PDI Perjuangan itu mengapresiasi langkah yang sudah dilakukan SD Muhammadiyah Sagan.

Lantaran memiliki program Ratu Melisa atau akronim dari radius satu meter lihat sampah ambil.

Hasto berharap gerakan tersebut bisa diikuti oleh sekolah negeri dan swasta lain di Kota Jogja. Pun menurutnya, kebersihan juga bagian dari iman dan harus diajarkan kepada siswa.

“Mari gotong royong menuntaskan masalah sampah, agar lingkungan kita makin bersih, sehat dan nyaman,” ajak Hasto.

Kepala SD Muhammadiyah Sagan Suwarjo mengaku, gerakan pilah sampah terus dibiasakan kepada guru maupun murid.

Upayanya dilakukan dengan penyediaan tempat sampah sesuai jenis. Sampah yang dipilah kemudian dimanfaatkan.

Contohnya untuk jenis sampah plastik dijual kepada pengepul. Lalu jenis kardus dan kertas dibawa ke bank sampah.

Sementara sampah sisa makanan dimanfaatkan untuk pakan ternak milik penjaga sekolah.

“Harapan kami gerakan seperti ini tidak hanya dilakukan di sekolah, tapi juga di rumah siswa dan guru,” katanya. (inu)

Editor : Bahana.
#sampah Kota Jogja #Sampah #Jogja