JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta memprediksi musim kemarau berakhir pada awal bulan Oktober mendatang. Hanya khusus Kabupaten Kulon Progo, kemungkinan lebih terlambat memasuki musim penghujan dibandingkan kabupaten/kota lain di DIJ.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas mengatakan, secara umum wilayah DIJ memasuki musim penghujan pada dasarian pertama Oktober. Namun untuk Kulon Progo khususnya sisi barat dan selatan diprediksi memasuki penghujan pada dasarian kedua. Atau 10 hari lebih terlambat dengan daerah lainnya.
Reni menyebut, kondisi itu dipengaruhi karena durasi musim kemarau di Kulon Progo yang lebih pendek karena hanya berlangsung 3-4 bulan. Sementara untuk kabupaten/kota lain di DIY cenderung menghadapi kemarau lebih lama atau sekitar 4-5 bulan.
Dia menyatakan, periode bulan September hingga Oktober mendatang merupakan masa pancaroba bagi sejumlah daerah. Oleh karena itu, dia menghimbau masyarakat dan pemerintah lebih waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
"Peralihan musim dari kemarau ke hujan berpotensi meningkatkan potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” ujar Reni dalam pesan singkatnya Jumat (5/9).
Berdasarkan hasil pengamatan atmosfer, BMKG Jogjakarta memprediksi hujan dengan intensitas ringan hingga ringan akan terjadi mulai pertengahan bulan September. Kemudian akan terus meningkat hingga akhir tahun mendatang.
Reni membeberkan, pada September curah hujan masuk kategori rendah-menengah atau berkisar 51-399 mm/bulan. Kemudian di Oktober hingga November naik menjadi 201-500 mm per bulan atau masuk kriteria menengah- tinggi.
“Wajib mengantisipasi risiko bencana hidrometeorologi basah pada wilayah-wilayah yang diprediksi sifat hujannya atas normal,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengaku akan siaga hingga tiga bulan ke depan. Terhitung dari September hingga Desember mendatang.
Dia menyebut, periode itu merupakan masa pancaroba dan penghujan. Sehingga dapat meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi. Seperti banjir, pohon tumbang, hingga atap roboh karena intensitas hujan semakin lebat. "Kami mengimbau masyarakat mulai melakukan langkah mitigasi,” katanya. (inu/laz)