JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mendeteksi adanya aktivitas bibit siklon 95W. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap gelombang tinggi di perairan selatan Jawa.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, siklon tropis tersebut terdeteksi di Samudera Pasifik Timur Filipina. Kemudian juga ada pola siklonik serupa di Samudra Hindia Barat Sumatera.
Dia menyebut, aktivitas siklon itu dapat berpengaruh terhadap gelombang tinggi di perairan selatan Jawa. Sehingga dalam beberapa hari kedepan gelombang laut diprediksi masuk kategori tinggi atau bekisar 2,5 hingga 4 meter.
“Gelombang tinggi terjadi dari tanggal 3 hingga 5 September 2025,” ujar Warjono saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Rabu (3/9/2025).
Selain itu, BMKG Yogyakarta juga memprediksi masih adanya hujan. Sebab berdasarkan hasil analisa dinamika atmosfer terpantau profil kelembaban udara di DIY berada pada kisaran 60-80 persen atau masuk kategori basah.
Kondisi tersebut memungkinkan adanya potensi uap air dalam pembentukan awan hujan. Sehingga dimungkinkan ada hujan bersifat lokal tidak merata. Terutama saat siang hingga sore hari dengan intensitas ringan.
“Sebarannya di Sleman bagian utara, Kulonprogo bagian utara dan Gunungkidul bagian utara,” beber Warjono.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat menyampaikan, pihaknya kini dalam status siaga. Sebab BMKG Yogyakarta sudah mengeluarkan prediksi masa pancaroba dari September hingga Desember.
Nur menyebut, selama masa peralihan musim itu masyarakat juga dihimbau waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Misalnya banjir atau genangan, atap roboh yang diakibatkan dari hujan lebat disertai angin kencang.
Dia juga berharap agar masyarakat mulai melakukan langkah mitigasi. Yakni dengan mulai mengelola sampah dengan bijak, membersihkan saluran air, memangkas ranting pohon rawan tumbang, memperkuat struktur bangunan, hingga menyimpan barang berharga di tempat aman.
“Peran serta masyarakat dalam mitigasi sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian,” tegas Nur. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin