Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gamelan Pusaka Keraton Ditabuh Seminggu Penuh, Tanda Peringatan Maulid Nabi Ala Keraton Jogja Dimulai

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 2 September 2025 | 21:50 WIB
Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pusaka keraton ditabuh selama satu minggu penuh sebagai simbol syiar islam dan tanda dimulainya Sekaten 2024.
Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pusaka keraton ditabuh selama satu minggu penuh sebagai simbol syiar islam dan tanda dimulainya Sekaten 2024.

JOGJA - Serangkaian acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ala Keraton Ngayogyakarta mulai digelar. Untuk mengawalinya, Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pusaka keraton Jogja ditabuh selama sepekan penuh. 

Bunyi gamelan peninggalan Sultan Hamengku Buwono 1 itu sebagai tanda dimulainya Sekaten 2025 serta sebuah simbol syiar islam. Gamelan itu dikeluarkan dari Keraton Jogja dalam prosesi Miyas Gangsa dan dipindahkan ke Masjid Gedhe Kauman. Gamelan Kyai Guntur Madu diletakkan di Pagongan Kidul sedangkan Kyai Naga Wilaga di Pagongan Lor. 

"Miyas Gangsa diadakan 29 Agustus, akan ditabuh sampai 4 September," ujar Kehartakan/Bendahara 1 Kawedanan Pengulon Keraton Yogyakarta KMT. Sarihartaka Dipuro saat dikonfirmasi, Selasa (2/9/2025). 

Gamelan akan dibunyikan setiap hari dari jam 08.00 pagi sampai malam. Hanya pada malam Jumat saja gamelan tersebut tidak dibunyikan. Di sekeliling bangunan dan ruangan gamelan, banyak ditemui sesaji seperti bunga, dupa ataupun kemanyan. 

"Untuk wewangian, bunga kanthil misalnya kan wangi dan sebagai perlambang kesucian," bebernya. 

Kedua gamelan yang berada di Pagongan Kidul maupun Lor ditabuh secara bergantian. Tujuan utamanya sebagai syiar. Masyarakat sekitar juga menandai apabila bunyi gamelan mengalun berarti peringatan Maulid Nabi di Keraton Jogja dimulai. 

"Gendhing atau lagu yang dibawakan saat gamelan dibunyikan mengandung unsur dakwah islam. Instrumen gamelan Sekaten menggunakan laras Pelog," bebernya. 

Pelog dimaknai sebagai kata serapan yang berasal dari bahasa arab yakni Falakh yang berarti kebahagiaan. Gendhing Sekaten terbagi menjadi tiga yakni Gendhing Lawas Pelog Pathet Limo, Pathet Nem dan Pathet Barang. Gendhing Pathet Limo untuk membawakan gendhing rambu, rangkung, lung gadhung, andong-andong dan yaumi (yahume). 

Gending laras pelog pathet nem untuk membawakan gendhing salatun, ngajarun, atur atur, gliyung, dhendang subingah, muri putih, orang aring dan bayemtur. Terakhir yakni laras pathet barang untuk membawakan gendhing srundeng gosong dan supiyatun. 

Naman-nama gendhing yang dibawakan sarat akan makna mendalam yang sangat religius. Gending Rambu diambil dari kata 'Robbunaa' yang berarti Allah Pangeranku. Gendiing Rangkung dari kata 'Ra'aakum' yang artinya sing ngrumat sliramu (yang merawatmu). Gendhing Yaumi atau Yahume, diambil dari bahasa arab "Dina" yang dimaknai sebagai hari lahir Nabi Muhammad SAW.  

Gending Salatun dari kata Shalat yang diartikan sebagi berdoa atau menyembah Allah SWT. Gending Ngajatun berasal dari kata 'hajat' yang artinya kemauan. Gending Dhendhang Subingah diartikan sebagai mengenang jasa para mubalig yang menyiarkan agama islam dari abad XIII Hijriyah. 

"Gendhing Supiyatun berasal dari kata 'sifiah' yang artinya bersih dan suci baik pikiran maupun hati," bebernya. (oso)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Gending salatun #maulid nabi #Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat #Gamelan keraton #Gending Dhendhang Subingah #Gendhing Supiyatun #Gending Ngajatun #Keraton Ngayogyakarta