JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja mulai mewaspadai potensi bencana. Itu seiring dengan masuknya masa peralihan musim dan penghujan hingga tiga bulan ke depan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masa pancaroba akan berlangsung dari September hingga Desember. Sehingga selama periode itu, dia meminta agar masyarakat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.
Nur menyatakan, kondisi geografis di Kota Jogja memungkinkan berbagai potensi bencana yang diakibatkan hujan lebat. Misalnya banjir atau genangan, pohon tumbang, hingga atap roboh. Bahkan juga memungkinkan timbul penyakit.
Oleh karena itu, dia menghimbau agar masyarakat mulai melakukan langkah mitigasi. Yakni dengan mulai mengelola sampah dengan bijak, membersihkan saluran air, memangkas ranting pohon rawan tumbang, memperkuat struktur bangunan, hingga menyimpan barang berharga di tempat aman.
“Perlu pula menyiagakan diri dari segi kesehatan dan kebersihan tata lingkungan,” ujar Nur saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Jumat (29/8/2025).
Sebagai upaya menguatkan mitigasi, Nur mengaku, sudah membentuk 169 Kampung Tangguh Bencana (KTB). Kehadiran mereka dapat mendorong kemandirian menangani bencana di tingkat terbawah masyarakat.
Lalu di internal BPBD Kota Jogja juga susah menyiagakan personil dan peralatan. Sehingga bisa melakukan penanganan bencana secara cepat jika dibutuhkan.
“Namun peran serta masyarakat dalam mitigasi sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian,” tegas Nur.
Sementara itu, Ketua KTB Kampung Serangan Kelurahan Notoprajan Ibnu Hajar menyatakan, sudah menyiapkan langkah mitigasi bencana banjir dan talud longsor. Sebab wilayah tempat tinggalnya berada di bantaran Sungai Winongo.
Ibnu membeberkan, skema penanganan yang dilakukan dengan menyiagakan dua Early Warning System (EWS). Sistem peringatan dini itu akan berbunyi ketika ketinggian air sungai sudah mencapai batas bahaya.
“Kalau water level atau ketinggian air sudah mencapai 250 centimeter, maka warga mulai dievakuasi,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin