JOGJA - Serikat Pekerja PT Taru Martani menggelar aksi sekaligus audiensi di Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (27/8/2025). Sejumlah karyawan mengadu ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan DPRD terkait ketidaknyamanan dengan kepemimpinan Direktur Utama (Dirut) perusahaan tersebut hingga kebijakan-kebijakan yang dinilai merugikan karyawan.
"Terutama arogansi direktur yang menyebabkan temen-temen tertekan," ujar Ketua Serikat Pekerja PT Taru Martani Suharyanto saat ditemui di sela aksi.
Arogansi yang dimaksud, diantaranya perlakuan Dirut PT Taru Martani Widayat Joko Priyanto yang diklaim sering membentak-bentak karyawan. Selain itu, perintah yang disampaikan kepada bawahan relatif keras.
"Sesuatu yang istilahnya tidak seharusnya di bentak-bentak itu dibentak, keras lah," bebernya.
Menurutnya, tidak lama setelah ia menjabat sebagai Dirut pada pertengahan Juli 2024, sikap arogan itu sudah mulai kelihatan. Bahkan, setelah menjabat banyak karyawan mengundurkan diri. Sampai hari ini terdapat sekitar 12 karyawan dan yang proses pengajuan dua orang.
"Walaupun di alasan resign itu tidak berani ditulis dengan alasan begitu, tapi mereka semua kan curahtnya ke serikat pekerja," tuturnya.
Karyawan tersebut dari berbagai bidang mulai karyawan produksi hingga HRD. Bahkan, HRD yang baru masuk dua bulan juga memilih untuk mengundurkan diri.
"Terutama (keresahan) terkait sikap (direktur)," tandasnya.
Ia juga menilai manajemen perusahaan tersebut belum ada struktur skala upahnya. Jadi pengupahan karyawan baru dengan karyawan lama yang mengabdi puluhan tahun tidak ada bedanya.
"Sering buat kebijakan yang tidak sesuai dengan DPKB kita," paparnya.
Gaji pokok karyawan lama dari karyawan kontrak berbeda. Bahkan, malah lebih banyak karyawan kontrak.
Total 200 pekerja PT Taru Martani menurutnya merasakan hal yang sama. Audiensi tersebut dihadiri oleh Penjabat Sekprov DIJ Aria Nugrahadi, Dirut PT Taru Martani Widayat Joko Priyanto bersama jajaran direksi, Komisaris PT Taru Martani Yudi Ismono dan Anggota Komisi D DPRD DIJ.
Para pekerja bersama dengan serikat buruh juga telah mengadakan survei lingkungan kerja PT Taru Martani. Hasil survei dengan 112 responden dari karyawan perusahaan tersebut, sebanyak 62 persen karyawan menyatakan tidak nyaman dengan lingkungan kerja. Kemudian 21 persen karyawan merasa nyaman dan 17 persen merasa sangat tidak nyaman.
"Jumlahnya mencapai 79 persen," tandasnya.
Penyebab ketidaknyamanan karyawan juga beragam. Dari survei, faktor paling dominan dikarenakan kepemimpinan tingkat direksi sebesar 51 persen. Kemudian kepemimpinan tingkat divisi 27 persen dan kepemimpinan tingkat unit 18 persen.
"Aspek manajerial tertinggi perlu menjadi prioritas utama dalam upaya perbaikan lingkungan kerja," jelasnya.
Survei selanjutnya dilakukan untuk mengetahui kepuasan karyawan terhadap direktur PT Taru Martani. Survei dilakukan pada bulan Agustus dengan total 153 responden. 55,6 persen karyawan tidak puas dan 43,8 persen menyatakan tidak puas sekali. Sehingga total 99,4 persen menyatakan tidak luas dan tidak puas sekali.
"Hampir tidak ada responden yang menjawab puas, sangat puas, atau sangat puas sekali," ucapnya.
Dari data survei yang terkumpul, faktor penyebab ketidakpuasan karyawan terhadap Direktur dikarenakan sikap arogan, intimidatif dan diskriminatif dengan 36,4 persen responder. Kemudian kebijakan direktur terkait upah, struktur skala upah, lembur, cuti dan sebagainya menempati posisi kedua dengan 27,2 persen.
Menanggapi hal itu, Dirut PT Taru Martani Widayat Joko Priyanto berterimakasih dengan saran yang disampaikan okeh serikat karyawan. Namun, menurutnya, beberapa karyawan yang memutuskan untuk mengundurkan diri dikarenakan pindah ke perusahaan lain dengan tawaran gajinyang lebih besar.
"Kalau itu kan kami tidak boleh melarang, maka kami izinkan," ujarnya.
Kemudian ia juga menceritakan alasan salah satu karyawan perempuan telah mengajukan pengunduran diri tiga bulan sebelumnya. Alasannya karena hamil anak pertama dan ingin fokus mengurusi anak.
"Kami sudah pesan juga kepada karyawan itu, apabila anak sudah besar dan ia ingin kembali kerja kami terbuka," bebernya.
Secara prinsip dirinya membuka kesempatan lebar bagi karyawan untuk menyampaikan aspirasi dan kritik yang membangun. Sebab, itu merupakan salah satu upaya menuju perusahaan maju.
Menanggapi keluhan karyawan terkait sikap kepemimpinannya yang arogan, ia menjelaskan bahwa dalam beberapa hal dirinya memang bersikap tegas. Terutama terkait produktivitas dan penyimpangan.
"Saya sangat lembut dalam lain hal juga," terangnya.
Terkait uang lembur yang berkurang, menurutnya lembur karyawan dilakukan untuk mengejar target produksi yang belum terpenuhi. Kemudian uang lembur pasti dibayarkan sesuai dengan regulasi. Rata-rata karyawan lembur sampai pukul 20.00.
"Kalau karyawan lembur pasti ada istirahat untuk makan malam, selain uang lembur makan malam pun dapat bahkan kalau lembur di hari libur juga ada tambahan uang makan siang," jelasnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin