JOGJA - Jabatan Dirreskrimsus Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini diisi seseorang bergelar profesor.
Ia adalah AKBP Prof Dr Saprodin SH MH yang mulai menjadi Dirreskrimsus Polda DIY sejak 14 Juli 2025.
Pria kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur ini sebelum pindah tugas ke Jogja sempat menduduki jabatan yang sama di Polda Sulawesi Barat.
Kesederhanaan melekat pada dirinya.
Hal itu ditunjukkan dengan rasa tidak enaknya ketika wartawan coba mengulik perjalanan kariernya di kepolisian.
"Yang saya pegang adalah lembah manah, menghindari popularitas, ndak dikira nanti cari panggung," ujarnya, Jumat (22/8/2025).
Perjalanan karirnya dimulai tahun 1991 di SPN Banyu Biru.
Dia memulai karier dari bintara dengan pangkat saat itu Sersan Dua Polisi atau kini Brigadir Dua (Bripda).
Ia masuk kepolisian saat lembaga tersebut masih menjadi satu bersama TNI dengan nama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Tahun 2002 ia meneruskan sekolah perwira.
Kemudian tahun 2012 lanjut sekolah SESPIMA (Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah Polri) dan Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimmen) tahun 2021.
"Jadi karir saya memang dari 0," bebernya.
Baca Juga: Komik Merebut Kota Perjuangan, Propaganda Orde Baru yang Jadi Rebutan Jenderal
Karir gemilangnya tak hanya pada sekolah taruna.
Dalam aspek akademis, ia juga berhasil mendapatkan gelar doktor.
Berawal dari tahun 1992, ia mendapat beasiswa sekolah S1 dari Kapolda Jawa Tengah saat itu.
Pendidikan S1 jurusan hukum ia tempuh selama empat tahun dan lulus tahun 1996.
"S2 nya saya di Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta," ucap pria berusia 56 tahun itu.
Pendidikan S3 dia tempuh di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.
Dari sana ia meraih gelar Guru Besar Kehormatan pada bidang Ilmu Hukum dari Unissula Semarang pada April 2024 silam.
Saat itu Saprodin juga tengah bertugas di Polda Jateng.
Pidato orasi ilmiahnya berjudul Rekonstruksi Kebijakan Penanganan Pencegahan Terorisme di Indonesia Yang Berbasis Nilai-nilai Keadilan Pancasila.
"Saya bisa selesai sekolah ini kebetulan semua, karena iseng ikut terus diterima."
"Termasuk gelar profesor ini saya tidak ada tendensi ingin bergelar profesor, karena mungkin kehendak Ilahi ya saya syukuri," jelasnya.
Mantan Kasat Reskrim Polresta Surakarta ini menyebut bahwa saat bertugas di Solo, dirinya kerap menemui kasus berkaitan dengan terorisme.
Salah satu kasus yang turut dia tangani adalah serangan bom bunuh diri di Mapolresta Surakarta 2016 silam.
"Back up tertutup. Waktu saya Kasat Serse Solo banyak tugas saya ya di Solo Raya rekan-rekan yang berpaham radikal, terorisme, volume dibanding yang lain tinggi kan Solo," jelasnya.
Saprodin hingga saat ini beberapa kali diminta untuk mengisi kuliah di Unissula.
Termasuk menguji mahasiswa S3.
Namun itu tidak dilakukan secara rutin.
"Kalau panggilan atau ada permohonan panggilan Unissula, oke."
"Saya juga punya kartu juga di sana dosen guru besar," katanya.
Ia menilai, tugas baru yang ia emban di Polda DIY menjadi tantangan tersendiri.
Ia beberapa kali sudah melakukan koordinasi lintas Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) DIY untuk melakukan silaturahmi dan pemetaan.
"Termasuk yang menonjol penataan pertambangan harus tertib sinergis dengan KPK, sinergis dawuhe Sinuwun, saya lebih menyentuh kepada nilai-nilai luhur Ngarso Dalem (Sultan) maupun penegakkan hukum dari KPK," terangnya.
Selain itu ia juga berkomitmen untuk menangani kasus peredaran minuman beralkohol (mihol) maupun judi online di DIY.
"Atau mungkin nanti ada (kasus) online-online yang lain," jelasnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin