Hal ini ditandai beberapa indikator seperti kurangnya pemahaman tentang ideologi negara, sejarah, dan tokoh-tokoh nasional, serta pengaruh budaya asing yang semakin kuat melalui media sosial dan teknologi. Benarkah?
Lalu, apa kata Gen Z, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbanpol) DIY, sejarawan dan akademisi, berikut laporan Radar Jogja.
Bagi Mutiara Annisa Mulia, siswa SMAN 1 Imogiri, Bantul, wawasan kebangsaan bukan hanya soal teori yang dipelajari di kelas. Tetapi juga sesuatu yang bisa diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menuturkan, salah satu wadah untuk mempelajarinya adalah mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).
“Di situ kita juga diajarin beberapa asesmen, salah satunya pengamalan nilai-nilai Pancasila, seperti pengaplikasiannya di kehidupan sehari-hari,” ujarnya saat ditemui di SMAN 1 Imogiri Kamis (14/8/2025)
Selain itu wawasan kebangsaan yang diajarkan di sekolah, salah satunya adalah toleransi. “Di sini ada yang non-Islam dan ada yang Islam. Kita diajarin punya toleransi,” katanya.
Pelajaran seni budaya juga memberi wawasan kebangsaan, karena dapat menumbuhkan cinta tanah air lewat kebudayaan yang ada di daerah setempat. "Apalagi di Kalurahan Wukirsari kebudayaannya beragam," tambahnya.
Ia mengatakan, di sekolahnya juga diajarkan mengikuti Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang pernah ia ikuti di kelas X.
Saat itu ia dan teman-temannya mendapat tema kearifan lokal dan diajak mengikuti kirab sekaligus mengamati merti dusun. “Kita diminta mengamati, mendokumentasikan, dan mempresentasikan di akhir semester,” jelasnya.
Selain itu, anggota OSIS SMAN 1 Imogiri ini juga aktif dalam kegiatan literasi. Ia sering mengunjungi perpustakaan dan mengikuti program Wukirsari Baca. Salah satu kegiatan yang ia ikuti adalah lokakarya membuat stempel dan buku cerita.
“Kita diajarin bikin stempel dari bahan bekas seperti kardus, terus dikasih tinta dan diaplikasikan di buku. Kita juga belajar menggambar untuk buku cerita,” kenangnya.
Baca Juga: Komit Dukung Spirit Literasi, Polbangtan Kementan Raih Penghargaan Perpustakaan Terinspiratif
Menurut siswi berusia 17 tahun ini, berbagai agenda di sekolah membuatnya semakin memahami arti persatuan. Perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) misalnya, diisi lomba-lomba yang mempererat keberagaman siswa.
Ia juga pernah menjadi bagian dari kegiatan Paskibraka. Tahun lalu, siswa dari sekolahnya menjadi pasukan pengibar bendera tingkat kapanewon.
Untuk memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan Indonesia, sekolahnya juga mengadakan lomba makan kerupuk dan pentas seni sebagai ajang untuk menyalurkan bakat siswa. Ada tiga kategori utama yaitu bernyanyi, puisi, dan drama. “Temanya semua nanti tentang kemerdekaan,” tuturnya.
Bagi siswa kelas 12 ini, semua pengalaman itu membuatnya memahami wawasan kebangsaan bisa dipelajari dari banyak hal. Mulai dari pelajaran di kelas, kegiatan budaya, toleransi, hingga kerja sama dengan teman-teman di berbagai acara.
Di Kota Jogja yang selama ini dikenal sebagai kota pelajar, wawasan kebangsaan masih cukup dipahami oleh sebagian pelajar. Athala Abrarjavas Syaihan misalnya.
Siswa SMAN 6 Jogja ini mengaku cukup paham tentang nilai-nilai kebangsaan. Salah satunya dalam hal penerapan Pancasila di kehidupan sehari-hari.
Aban, sapaannya menyatakan, bentuk penerapan Pancasila dilakukan dengan menghargai sesama teman sekolahnya agar bisa tercipta persatuan. Meskipun memiliki perbedaan dari sisi kepercayaan maupun budaya.
“Lewat Pancasila kami belajar tentang bagaimana menghargai umat beragama dan sesama warga Indonesia,” ujar Aban kepada Radar Jogja, Minggu (17/8/2025).
Siswa kelas 11 itu menuturkan, wawasan kebangsaan memang banyak didapat dari kegiatan sekolah. Contohnya melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila yang sudah menjadi bagian dari Kurikulum Merdeka.
Menurutnya, mata pelajaran Pendidikan Pancasila banyak memberi pengetahuan tentang jasa-jasa pahlawan yang sudah berjuang untuk Indonesia. Sekaligus memahami tentang sejarah kemerdekaan RI.
Kemudian juga melalui kegiatan luar sekolah seperti menjadi anggota Paskibraka Aban mengungkap, dengan mengikuti Paskibraka dirinya banyak dilatih tentang pendidikan karakter untuk lebih mencintai tanah air dan bersemangat dalam hal bela negara. “Lewat Paskibraka kami memahami tentang wawasan kebangsaan,” katanya.
Sementara itu, Jihansen Hasidungan Hutapea yang merupakan siswa SMKN 6 Jogja juga menilai wawasan kebangsaan banyak diajarkan lewat pelajaran sekolah. Namun bedanya, untuk sekolah kejuruan diberi nama Pendidikan Kewarganegaraan.
“Dalam Pendidikan Kewarganegaraan kami belajar tentang sejarah kepahlawanan dan kemerdekaan Indonesia,” beber siswa kelas 11 yang akrab disapa Sean ini. (cin/inu/laz)
Editor : Herpri Kartun