Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Akademisi Dorong Ciptakan Ruang-Ruang Digital untuk Melahirkan Kesadaran Kewarganegaraan

Delima Purnamasari • Senin, 18 Agustus 2025 | 03:17 WIB
Dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rhoma Dwi Aria Yuliantri
Dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rhoma Dwi Aria Yuliantri

JOGJA - Wawasan kebangsaan penting sebagai dasar kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa. Namun dalam penerapannya mengalami berbagai hambatan.

Dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rhoma Dwi Aria Yuliantri menilai, wawasan kebangsaan sebenarnya dibentuk dalam konteks dan waktu. Masyarakat Indonesia yang terbuka dan kosmopolit juga membuat wawasan kebangsaan menjadi unik setiap waktu.

Baca Juga: Dosen Sejarah UNY Sebut Bambu Runcing Telah Bergerak melalui Segala Zaman dan Konteks
Dia mencontohkan, pada awal abad ke-20 wawasan kebangsaan utamanya bermuatan tentang kesadaran menjadi bangsa terperintah. Menyadari diri dalam posisi dikuasai dan adanya diskriminasi sosial.


"Pada situasi ini pencetus seperti Tirto Adi Suryo menjadi katalisator. Wawasan kebangsaan menjadi tidak hanya soal diskriminasi sosial dan hukum," tambahnya.

Baca Juga: Merawat Memori Laskar Mataram, Belasan Tahun Perjuangan Dimaz Maulana Mengarsipkan Sejarah PSIM Jogja
Rhoma menyebut, wawasan kebangsaan berkembang jadi mencakup kesadaran dalam ranah politik. Kesadaran akan identitas sebagai satu kesatuan. Kesadaran tersebut hadir dari ruang-ruang perdebatan yang cair dan bermakna.


Ruang itu dimotori Cipto Mangukusumo, Ki Hadjar Dewantara, Marco Kartodikromo, Sukarno, dan lainnya. "Jadi mulai menanyakan identitas simbolik, seperti nama, cara berpakaian, dan bahasa. Dan juga kesadaran atas rasial dan suku bangsa," tambahnya.

Baca Juga: Luncurkan Body Metric System, Dorong Transformasi Digital Olahraga Nasional, Pelatih Tak Lagi Catat Kemajuan Atlet secara Manual
Dia menilai hadirnya Jepang membawa semangat renaissance Asia. Dalam waktu sama juga mengajarkan bagaimana indentitas kebangsaan itu didorong seragam. Namun, situasi global mendorong perubahan akan identitas geopolitik dan kesadaran menjadi manusia merdeka.


"Kesadaran itu melibatkan seluruh pemuda dan diwujudkan secara nyata dengan kemerdekaan Indonesia," katanya.


Untuk itu, di tengah situasi Indonesia yang beragam dan hadirnya digitalisasi perlu dilakukan adaptasi. Ruang-ruang digital perlu diciptakan untuk melahirkan kesadaran kewarganegaraan. Teknologi yang berkembang dapat menjadi medium untuk mempromosikan identitas kebangsaan.

Baik dalam konteks pendidikan formal maupun non formal dengan karya-karya inovatif.


"Wawasan kebangsaan dapat dibangun dengan model pemikiran melalui digital ideologi," katanya.
Dia menyebut memang ada anggapan bahwa partisipasi generasi muda kini dianggap lesu.

Utamanya dalam menerima tanggung jawab kewarganegaraan. Dia menilai ini lantaran zaman yang berbeda. Wawasan kebangsaan sendiri tidak sebatas partisipasi politik.


Namun bisa menjelma jadi berbagai bentuk. "Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membuat generasi muda merasa terlibat secara bermakna," tambahnya. (del/laz)

Editor : Herpri Kartun
#universitas negeri yogyakarta #sejarah #UNY #ki hadjar dewantara #digital #jepang